Friday, March 1, 2013

Lembar Baru


Assalamu’alaikum...

Hai, Halo, Apa kabar? Sudah lama tidak memposting disini. Lupa? Tentu tidak. Menulis adalah hal yang sangat saya senangi dan masih saya anggap sebagai kekuatan terbesar untuk menampung segala ide di fikiran saya. Malas? Bisa jadi. Orang yang enggan bergerak untuk mengambil makanan diatas meja makan adalah pemalas. Tidak mengikuti gerakan dalam hati untuk menulis disebut malas juga bukan? Jadi, ya, maafkan saya yang pemalas ini.

Memang, tidak linear sekali seorang yang mencintai menulis dan tulisan bisa malas menulis. Tentu ada penyebabnya. Penyebabnya adalah “my mind is going crazy with uncontrollable thoughts.”.

Beberapa bulan ini banyak sekali fikiran yang berkecamuk didalam kepala saya, sehingga saya harus men skip berita betapa cemasnya saya ketika sidang sarjana, berita istimewa ketika rektor menggeser tali di topi toga dari kiri ke kanan yang menjadikan nama saya bertambah panjang di seremoni bernama wisuda, berita sakit kepala karena dunia kerja ternyata amat sangat kejam, berita tentang kehebatan saya bermain tennis sekarang, berita suka cita yang datang dari sahabat terdekat yang sudah “off the market” karena akan segera menikah, serta berita menyayat hati ketika mengetahui orang tua sahabat yang lain tertimpa musibah.

Saya tidak bisa share disini karena kegalauan saya. Dan mengutip sebuah kutipan yang pernah saya baca “There is no greater agony than bearing an untold story inside you” yang cuma bisa saya jawab “yes, I’m suffering.”

Baik, saya akan mencoba jujur terhadap perasaan saya sendiri. Dulu, saya menulis karena ada seseorang di belakang saya. Dia selalu menjadi pembaca setia tulisan saya, pemberi semangat dan selalu membesarkan hati saya ketika sedih, dan dia mencintai saya. Kami sepakat mencintai itu bukan harus bertemu setiap hari dan saling menelpon di setiap waktu. Versi kami, mencintai adalah melindungi dan dia melindungi saya dari sentuhan, gombalan-gombalan tak penting dan hati saya. Karena komitmen tersebut dan beberapa hal lain, saya merasa, menulis blog adalah jarak terdekat saya dengan dia. Saya merasa ketika jemari ini sedang mengetik di typewriter, dia seakan ada disamping saya. Ketika saya mulai bercerita, dia menatap saya dengan tatapan yang paling lembut dan mendengar setiap cerita-cerita saya tanpa interupsi sama sekali. Kami terus melakukan ritual-ritual tersebut selama kurang lebih 2 tahun.  157 cerita yang ku posting dahulu adalah 157 curhat yang selalu di dengarnya dengan baik.

Kini, tak ada lagi kehadirannya disetiap ratusan tuts keyboard yang saya tekan, tak ada yang siap ikut tertawa jika membaca cerita konyol di blogku. Tak ada lagi dia. Kemudian saya berfikir, untuk apa lagi saya menulis?

Empat bulan. Lebih kurang empat bulan saya berfikir seperti itu. Hanya karena tidak dibacanya lagi, saya tak menulis.

Seminggu yang lalu, saya membaca kutipan menarik dari seorang penulis dan penyair dari Amerika, Maya Angelou. “A bird doesn't sing because it has an answer, it sings because it has a song”. Burung bernyanyi karena dia memiliki lagunya. Bukan karena dia ingin di dengar atau diperhatikan oleh orang lain. Kutipan ini membuat saya sadar, bahwa saya harus menulis karena saya memang menikmati irama tulisan saya, bukan menulis karena ingin dibaca oleh orang atau “dia” khususnya.

Dan ini lah saya yang sekarang, yang akan menulis karena saya memang mencintai menulis, insyaallah :)

1 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More