Sunday, March 31, 2013

Penting VS Penting


Akhir-akhir ini saya gelisah kalau sudah ditanya tentang masa depan. Saya belum berani menghadapinya dan terlalu takut mengambil risiko untuk coba melangkah kesana. Saat ini status saya masih freelance yang kerja kesana kemari tanpa gaji tetap dan pasti. Saya enjoy melakukan hal yang saya lakukan sekarang karena mungkin prioritas saya bukan uang, tetapi pengalaman. Segalanya berjalan normal dan saya menikmati hari serta rutinitas saya dengan baik, juga mengisi waktu luang dengan membaca buku penulis kesukaan saya, menulis blog, and watching and playing my own tennis as well. Disela – sela itu saya menikmati waktu saya mengurus kucing saya, bercengkrama dengan teman-teman terdekat saya dan menjenguk beberapa keluarga saya. Saya sangat menyadari bahwa saya sedang menikmati sekali hidup dengan segala kejadian-kejadian yang ada didalamnya. Ada sahabat, kehangatan di dalam rumah, segalanya berjalan sesuai maunya saya dan I cant be happier.

Life begins at the end of your comfort zone.

Saya selalu suka kutipan tadi dan mengetahui dengan jelas esensi didalamnya. Cita-cita saya adalah menjadi TKI, seperti ayah saya. Saya ingin sekali bekerja di perusahaan minyak dan gas. Meski saya bukan anak tehnik, tetapi di setiap perusahaan pasti ada departemen keuangannya, kan? Dan melihat mesin-mesin bukan hal yang baru untuk saya karena dari kecil saya selalu melihat garasi rumah yang selalu dijadikan bengkel dadakan yang diketuai ayah saya dan saya pun suka mengobrak abrik komputer yang penuh dengan data kerjaan insinyur kecintaan saya itu.

Saya bahagia ketika ayah membelikan banyak hadiah untuk mama, membelikan gadget-gadget terbaru untuk anaknya, membelikan tiket VIP menonton pertandingan tennis secara langsung yang saya fikir hal itu selamanya hanya akan ada di dalam mimpi saya. Juga membawa kami liburan, berhaji, tetap menyantuni anak yatim, menyekolahkan keluarga yang kurang mampu, dan tak perlu diingatkan untuk membayar zakat.

Saya merasa iri dengan ayah dan saat itu lah saya bercita-cita menjadi TKI. Saya harus kaya. Kalau tidak kaya bagaimana saya bisa berbagi dengan anak-anak miskin, bagaimana saya bisa menyekolahkan keluarga saya yang kurang mampu? Kekayaan memang tidak  membuat saya lebih mulia. Namun kekayaan dapat membantu saya memuliakan keluarga dan sesama.

Beberapa minggu yang lalu saya dapat telpon dari ayah. Beliau mengatakan ingin mengaktifkan kembali resident permit saya. Saya di ajak pulang ke Qatar. Saya di ajak kerja disana dan saya spontan menjawab “ya”. Saya bahagia sekali dan merasa sudah berada di jalur yang benar untuk mewujudkan cita-cita saya.

Suatu malam, saya tak bisa memejamkan mata kendati lelah sekali. Ada tanya yang belum dapat dijawab sehingga saya merasa gelisah. Ini mengenai ibu yang menelpon tadi siang. Beliau menyampaikan pertimbangan-pertimbangan yang harus saya ambil jika memutuskan pulang ke Qatar. Kalau saya pulang, berarti saya harus meninggalkan Banda Aceh. Meninggalkan rumah yang bertahun-tahun saya tempati. Menjual mobil yang bertahun-tahun saya kendarai. Meninggalkan Coffee, kucing saya yang sangat saya sayangi. Meninggalkan ukhti, haty, dan teman-teman yang bertahun-tahun saya cintai.

Kegalauan merasuki saya. Untuk mewujudkan cita-cita saya berbagi dan menyekolahi anak-anak miskin, saya harus kaya dan artinya saya harus kerja di Qatar agar menjadi kaya dan konsekuensinya, saya akan jauh dari keluarga di Aceh.

Sejujurnya, saya juga ingin kerja di Aceh. Tapi, bila tetap berada di Aceh, saya terhambat untuk mengejar cita-cita saya. Pun tidak ada jenis industri yang saya inginkan disini. Sampai detik ini, saya belum suka untuk menjadi pegawai bank seperti teman saya kebanyakan. Saya juga tak ingin menjadi PNS seperti yang di harapkan ibu saya.

Betapa sulit memilih. Sedangkan kenyataannya, kita diharuskan untuk selalu memilih sepanjang hidup kita. Hati saya terbelah dua. Separuh di Qatar, bersama kedua orang tua saya. Separuhnya lagi di Aceh, sedang di genggam ukhti, haty, dan teman-teman saya. Saya juga tidak tau harus mendengar perintah otak yang mana untuk memilih masa depan saya. Sedang hidup terlalu pendek  dan tetap bergerak tanpa menunggu saya.

6 comments:

:((
klo wawak k qatar,,bakal ga ktm lgi,,
pasti kangen x ma wawak,,,

smoga wawak memutuskan pilhan yg terbaik :)

#hug

iya wak, doain ya bisa memilih yang paling tepat :')

Follow your heart and make it your decision.
keep posting asik asik tulisan nya..

yep, i take that as a compliment and thank you for reading;)

I know that I might be selfish if I say this, but when I read this post, I was like, "nooo, don't go! I haven't met you yet!" and then I said, I have to introduce myself to her. That's how bad I want to know you personally. I'm such a drama queen, ain't I? :P

But I know how it feels to have dreams. I can totally relate to that. Hmm, like the saying goes, follow your heart hon. It usually leads you to make the right decisions and end up in the right places ;)

as your wish my psychologist. meet up first. leave afterward :p

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More