Saturday, March 16, 2013

Sebuah Permohonan


Malam itu, di ruang dingin dengan bau obat yang begitu menyengat, aku terdiam lama sekali. Pandangan disana mencabik hatiku sepotong demi sepotong. Ujung dadaku sesak, paru-paruku terhimpit, seolah udara enggan sekali mengisinya. Mungkin tepatnya, aku yang tak sanggup menghirup udara.

Orang tua itu terbaring tanpa sadar, tanpa bisa melihat atau mendengar apapum, termasuk rintih tangis istri dan anak-anaknya. Berbagai selang, jarum dan serangkaian alatpun menjejali tubuh ringkihnya, merangkak masuk di dalam hidung dan kerongkongannya, serta melubangi pergelangan tangannya.

Disaat yang bersamaan, aku hanya bisa berdiri dan menundukkan kepala melihatnya. Berusaha untuk tidak menangis dan terus meminta doa kesembuhan kepadaNya.

Abah… orang tua keduaku, kecintaan Ukhtiku, cepat lah sembuh. Mari menjadi nahkoda kapal yang menuntun jalan ke Syurga lagi. Kami sekeluarga rindu…

4 comments:

abah udh kembali ke kekasih sejatinya,,
semoga abah mendapat tempat terbaik :((

wawak carah: yaa ayyatuhannafsul mutmainnah, irji'i ilaa rabbiki radhiatammardhiah. fad khuli fi ibadi, wad khuli jannati

ahahahahhahahah ampun budeeeeeee... foto kalian disitu mirip dan tampak sekurus wawak sarah... ampuuuuuuun *tuah juta2*

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More