Saturday, March 2, 2013

Suatu Saat Kita Mengerti



Siapa yang punya keinginan hidup jauh dari orang tua? Apa alasannya? Ingin menjadi orang yang bebas dari segala aturan rumah tangga? ingin keluar dari segala larangan dan uang jajan yang terbatas? Ingin hidup mandiri? Apalagi? Saya siap mendengarkan glorifikasi kalian semua yang mendambakan hidup jauh dari orang tua.

Actually, saya sudah hidup berjauhan dari orang tua sejak umur saya 17 (dan saya 22 sekarang). 1 tahun pertama saya benar-benar bahagia atas keindependenan saya. Uang banyak, mobil yang siap saya kendarai dan kunci rumah  yang bisa saya gunakan kapan saja saya pulang, Tidak ada omelan, tidak ada kekhawatiran, tidak ada gangguan. Semua terasa amat sangat nikmat. Di tahun kedua, kemaruk saya berfoya-foya berkurang. Saya jadi sering sakit-sakitan. Maag, thypus, dan gizi buruk seperti tamu yang silih berganti masuk ke rumah tubuh saya. Pertanyaan mengapa bisa seperti itu jawabannya adalah saya tidak mengontrol jadwal makan saya. Saya jadi rindu ibu dan semua masakannya.

Tahun ketiga, saya sudah mulai berhati-hati dengan menjaga pola makan yang baik. Keuangan sudah bisa saya kontrol dan tidak lagi menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting—bolak balik main ke Medan, beli gadget terbaru dan bayar ketok magic mobil yang sebentar-bentar saya tabrakkan karena ketidak hati-hatian saya. Saya juga mulai jarang makan fastfood, mengantar cucian ke laudry, mengendarai mobil ke warung depan, mencuci mobil di doorsmer seminggu dua kali, dan lainnya. Saya menggantinya dengan mengerjakan tugas-tugas itu sendiri. Saya memilih belanja untuk masak di rumah, membeli rinso dan sabun mobil untuk mencuci baju dan mobil sendiri di rumah. Saya juga lebih memilih naik sepeda jika diharuskan pergi ke tempat-tempat yang dekat.

Tahun ke empat dan kelima saya merasa semakin matang dan sangat sistematis untuk urusan-urusan rumah tangga. Keuangan saya semakin baik. Tabungan saya sudah banyak. Saya pergi liburan ke Jakarta dengan uang hasil menabung saya. Satu-satunya hal yang pelik di tahun keempat adalah skripsi. Sekarang, di tahun ke lima, Alhamdulillah saya sudah menjadi sarjana. Sambil menunggu pengumuman scholarship saya bekerja freelance dari suatu tempat ke tempat yang lain, saya juga menjadi guru bahasa inggris untuk anak-anak kurang mampu di daerah Aceh Besar.

Dengan umur  22, dengan segala check point yang sudah banyak tercentang tentang agenda hidup, saya jadi rindu sesuatu. Saya rindu… orang tua. Saya iri dengan anak-anak yang masih tinggal dengan orang tuanya, bisa membantu mereka, menyenangkan hati mereka, mengobrol hangat dengan penuh tawa, membagi rezeki pertama kita untuk mereka, saya jadi merasa rindu dan sedih yang mendalam. Tak banyak kesempatan yang saya miliki dibandingkan kalian, yang hidupnya masih dekat dengan orang tua. Saya sedih kalau ayah atau mama menelpon mengatakan mereka sedang sakit. Saya tidak bisa berbuat apa-apa ketika kalian bisa memijat orang tua kalian ketika mereka sakit.

Orang tua saya sama dengan orang tua kebanyakan. Suka ngomel. Tapi karena kesempatan melihat mereka jarang saya dapatkan, saya menikmatinya sekarang. Kalau mereka tidak ada lagi nanti, mau di omeli pun tidak akan ada lagi mereka, khususnya ibu, yang mengomeli. Jadi saya menikmati segala mood mereka sekarang.

Bila keinginan meninggalkan dan hidup jauh dari orang tua masih kuat, pergi lah. Karena tulisan saya bukan untuk merubah mindset kalian. Coba saja hal yang ada di luar, raih segala keberhasilan. Waktu akan menjawab arti cinta itu sendiri. Karena, cinta orang tua itu sama. Bumbunya saja yang berbeda.

2 comments:

pergi dari rumah karena bakti terhadap negara :(

pengen pulangggggg,,,

wawak carah: pulang keciniiii :*

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More