Wednesday, April 17, 2013

Berbeda


Saya benci berbeda. Dari kecil saya merasa saya berbeda dengan teman-teman dan saya selalu minder karena perbedaan ini. Saya benci selalu menjadi ejekan teman-teman karena saya kidal. Tidak hanya teman, guru pun seolah ingin tau bagaimana cara makan orang kidal, melakukan sesuatu, sampai dengan cara membersihkan bila buang air. 

Dulu, saya naksir guru SD saya. Bapak itu tampan dan masih muda sekali. Namanya Darwanto. Saat itu saya yang masih kelas 2 SD hanya bisa kecewa sekaligus senang ketika mengetahui Pak Darwanto hanya mengajar kelas 4 sampai dengan kelas 6 SD. Kecewa karena masih harus menunggu dua tahun lagi untuk berada di kelas yang sama dengan beliau sekaligus bahagia karena beliau belum termasuk golongan-golongan guru yang mengusik saya.

Suatu ketika, guru Bahasa Indonesia kami sedang berhalangan hadir dan betapa shock nya saya saat mengetahui Pak Darwanto sedang membawa buku Bahasa Indonesia kelas 2 SD dan berjalan cepat menuju kelas kami. Sesampainya di kelas, beliau berkata bahwa hari ini beliau akan menggantikan Bu Susi yang kebetulan berhalangan hadir.

Saya ingat sekali Pak Darwanto mendikte sebuah cerita dan kami di haruskan menulis sesuai yang beliau diktekan. Entah kenapa, saya menjadi salah tingkah karena artinya saya akan menulis di depan Pak Darwanto. Saya juga kesal sekali karena di kelas kami baru saja diadakan rotasi tempat duduk dan saya berada di meja terdepan dan berhadapan langsung dengan beliau. Saya malu sekali bila beliau mengetahui saya kidal. Akhirnya ketika ia memulai mendikte, saya meletakkan buku cetak Bahasa Indonesia yang terbuka dengan posisi tegak di depan saya untuk menutupi wajah saya agar beliau tidak dapat melihat saya ketika menulis.

Cara ini gagal. Hanya dalam waktu 5 menit ia langsung menghampiri saya dan meminta saya untuk menurunkan buku Bahasa Indonesia saya agar bisa melihat apakah saya benar-benar menulis materi yang ia diktekan atau tidak. Sial! Saya tidak bisa bersembunyi lagi bahwa saya menulis dengan tangan kiri. Saya malu sekali di depan beliau.

"Waduh, kamu kok gak sopan sih nulis pake tangan kiri?" itu ucapan beliau ketika menyadari saya menulis dengan tangan kiri. Saya kesal lagi-lagi saya harus di katakan seperti itu dan sedih ternyata Pak Darwanto yang ganteng itu tidak masuk dalam kubu guru-guru yang membesarkan hati saya yang mengatakan “wah… nulisnya pakai tangan kiri ya? Bagus, seperti Bill Clinton!”

Selain kidal, saya juga benci sekali dengan nama saya. Carina. Saya jadi bulan-bulanan teman-teman saya. Ada yang memanggil nama saya dengan “Carina” bukan “Karina”, “mobil ina”, sampai “kariiiiii… ayam”. Berkali-kali saya protes dengan ibu dan ayah betapa jeleknya nama yang mereka berikan pada saya tapi  mereka bilang itu adalah nama yang paling keren karena seperti nama orang bule. Ah, paling mereka cuma ingin membesarkan hati saya saja.

Waktu berlalu dan saat itu saya sudah SMP. Saya sedang aktif-aktifnya bermain tennis di komplek saya. Orang-orang yang menonton saya langsung bilang saya mempunyai permainan yang unik dan saya kidal seperti Rafael Nadal! Saya senang bukan main. Di tambah lagi komentar-komentar yang mengatakan bahwa sulit sekali membaca permainan tenis orang kidal membuat saya semakin percaya diri dan akhirnya saya tidak malu lagi dengan tangan kiri saya.

Satu-satunya yang masih membuat saya kesal adalah nama. Kalau sudah mulai tahun ajaran baru dan bertemu dengan guru-guru baru, biasanya mereka pasti bertanya membaca nama Carina pakai “c” atau “k”. Ada juga guru yang menakuti saya bahwa dihari kiamat nanti saya akan dipanggil paling akhir karena nama saya tidak ada unsur islamnya dan biasanya akan di sambut dengan tawa dan ledekan teman-teman sekelas saya.

Saya jadi benci manusia-manusia yang bisanya hanya merendahkan saya. Mungkin, setelah mereka puas tertawa, mereka tidak akan perduli lagi. Tapi saya, akan selalu ingat betapa malunya pernah ditertawakan di depan umum. Dan tanpa sadar saya menjadi rendah diri dan mulai apatis. Dulu, saya bahkan menolak ikut kontes bernyanyi dan lomba fashion show karena takut MC nya akan salah menyebut nama saya! Ternyata impact rendah diri yang saya alami begitu luar biasa.

Tahun 2006 saya pindah ke Qatar. Alangkah bahagianya saya karena tidak ada yang sibuk mengurusi saya menulis pakai tangan apa. Teman Qatari saya yang juga kidal malah mengajak tos dan berkata “hey lefty! We’re cool!”. Guru-guru disana yang rata-rata bule juga memanggil nama saya dengan baik. Jadi tidak ada lagi klarifikasi tentang panggilan dengan awalan “c” atau “k”, tak ada lagi guru yang berkata “coba tanya sama orang tua kamu, apa maksud nama kamu.”, dan tanggapan gak penting lainnya.

Di Qatar lah, kepercayaan diri saya, untuk pertama kalinya, terbangun.

“the best form of respect is self respect”

Saya sangat menyadari bahwa dulu saya sedikit sekali bersyukur meski perasaaan rendah diri saya tidak terbentuk begitu saja, tetapi ia terjadi sebagai efek insidental dari pencitraan diri negatif yang telah berlangsung lama yang berasal dari orang lain. Tapi, perbedaan bentuk tubuh, nama, warna kulit, cara menulis, asal usul keturunan tidak seharusnya membuat saya rendah diri dan lantas mengeluh.

Penghargaan yang paling jarang kita berikan adalah penghargaan untuk diri sendiri. Sekarang, saya paham betul dengan kalimat ini dan tidak akan merasa rendah diri lagi. Ini lah sebaik-baik saya dan saya harus menghargai diri saya sendiri.

4 comments:

sabar sis...perbedaan adalah hikmah,,bagi meraka y bisa bersyukur pasti akan sadar arti perbedaan dan kekurangan sesunggungnya...
yes u right value your self more than anything...don't let they bring you down..

I do think that left-handed people are really cool, and in fact the difference is what makes people unique ;) And to be honest, I love reading your posts. Please keep writing ;)
Anywaaaay, kita tetanggaan loo di Banda Aceh :D hehehe

@vicry: im on my most confident now, thank you :)

@eva: heyyyy... i wont let you down and reading your comment really makes me happy (with the big smile on my face). so, just let me know if you're in banda aceh and lets meet up! ;)

For sure!!! Let's meet up!!
Will you still be in Banda Aceh this Ramadhan?!
Cuz I might go back this June, Insha ALLAH
***But it's still a secret, hehe. Just couple close friends know about it ;)

I replied your comment on facebook already.
But I guess, you haven't read it since there's no reply :/
Kariiin, you do live in Villa Alamanda, don't u?!
I hope I'm not mistaken you for someone else :P

Ohhh, how I can't wait to see you my dear neighboor >.<

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More