Thursday, May 16, 2013

Kesederhanaan Dalam Mencintai


Jadi, 16 Mei 2013 yang baru berlalu 60 menit barusan adalah hari ulang tahun ayah saya. Sudah genap tujuh tahun saya hanya bisa mengucapkan selamat ulang tahun melalui sebuah pesan. Pesan singkat yang dia pun tidak tau bagaimana caranya mengirim cinta dan sebongkah rindu.

Ulang tahun ayah kali ini sama seperti ulang tahun sebelumnya, tidak ada salam penuh ta’zim, pelukan hangat dan makan malam yang mesra. Hanya ada doa supaya selalu diberikan kesehatan dan rezeki yang berkah serta perjumpaan kembali.

Dari segala tulis-hapus-tulis-hapus sms, pada akhirnya saya kirim yang paling sederhana. Karena, ketika hendak menulis sesuatu kepadanya, semua terasa sangat sulit.

Karena… ayah adalah sebuah cinta. Cinta yang tak berhujung. Di tahun-tahun tersulitnya membesarkan saya, ayah selalu punya jalan untuk selalu optimis. Ia selalu punya cara untuk mencari jalan keluar dari kesempitan, selalu punya caranya sendiri untuk yakin bahwa setelah malam yang gelap dan pekat, shubuh pasti akan segera tiba. Kemudian, sanggupkah saya berterimakasih atas cinta yang demikian besarnya hanya dengan sebuah pesan singkat?

Karena… ada tangan-tangan ayah yang menemani perjalanan saya sampai hari ini. Baju-baju sekolah, mainan, buku-buku yang saya pelajari, yang dengannya saya menyandang gelar sarjana. Semua ada tangan-tangan ayah. Lalu, bisa kah keringatnya di hapus dengan sebuah pesan singkat?

Karena… ayah adalah penyambung nyawa saya dengan hidup. Dan beliau tak pernah merasa lelah dengan segala kenakalan saya, keras kepala dan “rasa” yang merasa bahwa ayah hanya hadir dalam beberapa potong dari seri hidup saya, tak sanggup saya himpun melalui sebuah pinta maaf melalui sebuah pesan singkat.

Karena… ayah adalah kebanggaan saya. Berdiskusi dengan ayah menjadikan motivasi saya untuk menjadi sukses semakin besar. Meminta pendapat darinya adalah kunci dari segala keputusan besar yang pernah saya buat. Oh, salah. Bukan meminta pendapat. Tetapi memaksa ayah untuk mengikuti pendapat saya dan ketika keputusan saya salah, maka ayah rela menerima pembagian rasa bersalah. Sesak di dada menjadi tidak seberapa, karena ada ayah yang turut mengambil bagian. Lantas, bagaimana bisa kebanggaan ini saya cukupkan dalam sebuah pesan singkat?


Ayah, entah lah… setiap memikirkan ayah, air mata ini selalu tumpah. Kalau saya bertanya apa yang beliau inginkan sebagai kado, ia tidak pernah memberi jawaban. Selalu menjawab singkat “kakak sehat, ayah uda senang” “kakak dapat nilai bagus, ayah bahagia” “kakak lulus dengan predikat yang baik, ayah bangga”. Tidak pernah ada permintaan apa-apa. Kadang kala saya merasa tidak baik sebagai anak. Saya tidak bisa menyelami isi hati dan perasaan ayah. Sedikit sekali waktu yang saya bagi kepada ayah. Padahal ayah pasti ingin banyak mendengar cerita dari saya. Ia mungkin tak mau secara khusus meminta, namun seharusnya sesekali secara khusus saya duduk bersama ayah untuk waktu yang lama, khusus untuk menceritakan apa saja tentang diri saya. Atau bertanya tentang apa harapan-harapannya dari saya.

Karena… ayah adalah ayah. Pada matanya yang mengawasi, pada bahunya yang melindungi, pada diamnya yang menenangkan, pada suaranya yang mewanti-wanti. Kebaikan ayah begitu tak terdefinisi. Hingga semua kebaikannya tak sanggup saya rangkum dalam sebuah pesan singkat.

Oh, iya. Ayah saya baru membalas pesan sederhana saya dengan kata-kata yang lebih sederhana lagi, namun bagi saya artinya dalam sekali. Artinya mengandung harapan, keteguhan hati, sebuah doa, dan… masa depan.
 


I love you ayah. You are the best man I’ve ever known.

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More