Tuesday, May 14, 2013

Tentang Cita-Cita


Saya pernah menjadi peserta seminar motivasi. Ini mendadak. Sebenarnya saya hanya mengantar kakak saya yang kebetulan dipanggil menjadi mc pada acara tersebut. Saat itu hujan deras. Ketika saya hendak pulang, hujan malah semakin deras. Saya membuka jok motor sambil berharap ada jaket di dalamnya untuk menjadi kawan saya pulang. Ternyata tidak ada. Ingin menerjang hujan, saya urungkan niat itu dalam-dalam karena saya baru sembuh demam. Selang beberapa detik, kakak saya memanggil-manggil saya ke arahnya. Setelah mendatanginya, ia menyerahkan saya seutuhnya kepada adik-adik berkalung badge panitia. Adik tersebut menuntun saya masuk ke dalam gedung dan mempersilahkan saya untuk duduk diantara peserta-peserta seminar. Gratis.

Ada yang menarik diseminar tersebut. Seorang ibu paruh baya yang menjadi pemateri. Ketika kakak saya memintanya untuk memperkenalkan diri, menceritakan riwayat pendidikan dan pekerjaannya, saya merasa jawaban-jawaban beliau begitu luar biasa. Pertama, ternyata beliau adalah orang miskin dari Subulussalam yang dulu mengenyam pendidikan ditemani lampu teplok saat listrik masih menjadi hal yang tabu di desanya. Kedua, beliau seorang lulusan S3 di Inggris. Ini membuktikan betapa beliau seorang yang dahaga intelektual. Tak peduli seberapa miskin, ia haus dengan pendidikan. Ketiga, dan yang paling menarik, pekerjaannya adalah ibu rumah tangga. Pekerjaan sampingannya adalah direktur salah satu perusahaan dan juga seorang konsultan.

Pekerjaan-pekerjaan sampingannya begitu ber prestise tetapi beliau tetap menyebut ibu rumah tangga sebagai pekerjaan utamanya. Saya kagum sekali. Di siang yang gelap dan basah karena guyuran hujan, saya memiliki cita-cita baru. Menjadi ibu rumah tangga. Yang baik.

Ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang harus di apresiasi. Mengapa? Karena menjadi ibu yang baik tidak ada sekolahnya dan untuk menjadi ibu yang baik tidak melalui ujian tertulis atau dengan wawancara. Menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan tersulit. Ibu adalah sumber kasih sayang. Ini pekerjaan paling sulit. Pekerjaan mencintai tanpa menuntut balas.

Di dunia ini, tak akan pernah kita temukan cinta kasih melebihi cinta kasih sayang yang diberikan oleh ibu, tak ada cinta setulus seorang ibu. Kasih sayang dan cintanya tak akan pernah bisa tergantikan. Perjuangan dan pengorbanannya selalu ikhlas dan tulus. Doanya memberi kesejukan dan keselamatan. Ibu yang bersusah payah ketika melahirkan yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Ibu yang telah menyusui dengan air susunya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjaga kita. Ia utamakan diri kita atas dirinya serta atas makanannya. Ia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagi kita. Ia, seorang prajurit malam yang selalu terjaga menemani ketidakberdayaan kita. Ia telah memberikan kita semua kebaikan, dan apabila kita sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan luar biasa dan kesedihan yang panjang. Itulah seorang ibu.

Menjadi direktur di perusahaan besar? Mudah. Tapi apa artinya semua pencapaian duniawi jika sang anak merasa terabaikan? Untuk apa segala status diluar jika tidak ada kecupan selamat pagi penuh cinta untuk anak-anak, jika tidak ada suara lembut yang mengajarkan Al Qur’an kepada mereka di setiap waktu, tidak ada telinga yang mendengar suara terbata-batanya yang mencoba membaca tulisan di komik yang baru dibelikan ayahnya, tidak ada tangan halus yang mengajari mereka menggambar, tidak ada sosok yang mereka cari ketika mendapatkan nilai baik dan tidak ada sosok yang mereka banggakan kedepan teman-temannya karena masakannya yang enak?

Ada sebuah artikel menarik yang pernah saya baca untuk memperluas pola fikir kita semua tentang kriteria ibu yang baik. Bahwa, menjadi ibu yang baik itu bukan berarti berdiam dirumah dan hanya melakukan pekerjaan rumah tangga. Mereka yang disegani di luar tetapi penyayang di dalam rumah. Wanita sekuat karang untuk karir tapi memiliki hati selembut kapas di rumah. Wanita yang berdiri tegap untuk penghargaan akademis tapi tidak malu menunduk untuk mengikat sepatu anak. Wanita yang tersenyum akan pencapaian karir tapi mampu bernyanyi untuk menidurkan anak. Itu lah ibu rumah tangga yang baik. Cita-citaku.

4 comments:

A full time mother, and a part time psychologist, why didn't I think of that?=.=
Thanks for sharing hon! ;)

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More