Friday, June 28, 2013

Kekuatan Sedekah


“kita ngga diperjumpakan dengan malaikat Allah hari ini ya” kataku.

Malaikat Allah yang saya maksudkan disni adalah orang-orang lanjut usia yang fakir miskin tapi masih bekerja dengan ikhlas demi rezeki hari ini. Malaikat Allah yang saya maksudkan adalah orang-orang lanjut usia yang meninggikan derjat dan harga dirinya untuk tidak meminta-minta di pinggir jalan. Dan, hari itu, saya tidak diperjumpakan dengan malaikat-malaikat tersebut untuk saya berikan bagian dari rezeki saya dapatkan.

Siang itu saya ingin merebahkan badan karena lelah dengan aktifitas di pagi hari. Belum juga sempat menutup mata, telpon genggam saya berdering. Dari bunda (adik mama) saya di Bireun. Beliau berkata besok akan ke Banda Aceh dan meminta saya untuk menemaninya pergi berobat ke klinik dokter yang bisa menangani kanker karena bunda di diagnosa terkena penyakit itu. Saya menjawab ya.

Saya ingat sekali, hari itu Sabtu dan dokter telah mendiagnosa bahwa benar, bunda saya terkena kanker payudara stadium 3 C dan sudah menjalar ke bagian leher. Sangat parah dan harus segera di operasi. Dokter telah membuat surat operasi ke salah satu rumah sakit bahwa malam selasa akan dilakukan pengoperasian. Bunda, malam itu hanya berkata pada saya “bunda minta tolong ya Nak, karena tidak ada keluarga kita selain Karin disini. Maaf ya kalau nanti merepotkan” yang terus saya balas dengan gelengan. Saya tidak keberatan sama sekali. Bismillah, saya akan penuhi kebutuhan bunda selama di Banda Aceh. Saya tidak akan menyia-nyiakan pahala yang “bertaburan” dihadapan saya.

Bunda menjalani operasi tanggal 10 Juni kemarin jam 22.00. Saya, haty, ukhti dan nenek menunggu di depan ruang operasi. Saya tidak teringat membawa selimut atau jaket sedangkan udara sedang tidak bersahabat sekali malam itu. Angin kencang sekali, tubuh menggigil, mata mengantuk, tetapi kami tak bisa tidur sedikitpun. Pukul 01.30 dini hari, dokter OK menghampiri kami dan berkata bahwa mereka butuh 2 kantong darah dan tolong segera di ambil ke PMI. Saya dan Haty seraya bergegas ke PMI sementara Ukhti menemani nenek menunggu disana. Sesampai di PMI, kami dikecewakan karena hanya menerima satu kantong darah. Mereka tidak bersedia memberikan lebih dari satu, entah karena alasan apa. Kami membawa kantong darah itu kembali ke rumah sakit dan dokter OK hanya bisa menggeleng ketika kami ceritakan bahwa pihak PMI tidak bersedia memberikan lebih dari satu kantong. “ini tidak cukup” kata dokter itu.

Saya mulai cemas dan benar saja, lima menit kemudian dokter itu datang lagi dan meminta kantong darah lagi. Pukul 02.00 dini hari, saya untuk kedua kalinya ke PMI. Tetapi keadaan disana tidak seperti diawal saya datang setengah jam yang lalu. Ternyata ada 4 orang yang mengantri sedangkan saya ingin cepat-cepat membawa kantung darah. Sudah 30 menit dan saya masih terus melihat aktivitas orang-orang PMI yang tidak kunjung memanggil nama bunda saya. Tak lama, telpon saya berdering. Dari Ukhti. saya tidak bisa mendengar dengan jelas karena huruf demi huruf rasanya berhamburan semua ingin keluar dari mulutnya. Yang saya tau, bunda saya kritis. Air mata saya tumpah. Kaki saya lemas, tidak sanggup berjalan lagi. Tubuh saya berguncang hebat, takut hal yang paling saya hindari terjadi. Haty langsung mendatangi staff PMI itu dan menekan dengan sedikit bentakan atas keterlambatan ini. Tidak seperti sebelumnya mereka berlama-lama saat kami bertanya kenapa tidak disegerakan yang mereka jawab perlu penyesuaian suhu dengan santai, sekarang mereka langsung memberikan kantong darah tersebut dan entah lah, saya tidak pernah mengendarai mobil sekencang itu, yang saya tau sekejab saja saya sudah sampai di rumah sakit. Setelah memberikannya kepada dokter OK, saya tetap tidak bisa tenang. Jantung saya berdebar kencang sekali, pikiran saya kalut. Apakah saya telat membawa kantong darah itu? Apa bunda saya bisa bertahan? Apa kritisnya sudah lewat?

Pukul 04.00 dini hari, dengan mengucap syukur, operasi selesai.

xxx

Saya sedang bersiap pergi ke rumah sakit membawa makanan untuk keluarga yang menginap disana. Di jalan, saya berjumpa dengan seorang nenek yang menjinjing tikar dikepalanya. Saya meliriknya sedetik, jantung saya berdegup, tetapi saya terus menginjak pedal gas untuk melaju lagi. Saya lihat lagi nenek tua renta yang terus berjalan diantara lemahnya tubuh dan derasnya hujan hari itu. Saya hentikan mobil dan mendengarkan suara hati saya. Saya putar kembali mobil ke arahnya dan mengejarnya.

Sewaktu saya mengatakan “sayang sekali, kita ngga diperjumpakan dengan malaikat Allah hari ini ya” kepada Haty dan Ukhti, Ukhti baru bercerita bahwa urusannya dimudahkan ketika ia menjumpai seorang pemulung tua. Saat itu, katanya, urusannya pelik sekali, dan seperti saya barusan ketika melihat nenek yang sedang menjinjing tikar di kepalanya, ukhti juga mendengar kata hati dan menghampiri seorang pemulung yang sedang mencari botol-botol plastik di tong sampah. Tidak seperti memberi sedekah pada umumnya, setelah memberikan nominal terbesar dari dompetnya, ia menggenggam tangan pemulung itu dan berkata “mak, doakan saya ya biar urusan saya dipermudah”. Nenek itu lantas bertanya nama panjang Ukhti dan nama abahnya, beliau langsung mendoakan Ukhti tunai. Hari itu, keajaiban terjadi baginya.

Seperti Ukhti, saya juga menggenggam tangan tua itu dan meminta beliau mendoakan saya dan Alhamdulillah saya di doakan.

xxx

Malam itu, saya datang ke Rumah Sakit bersama teman dan kakak yang bekerja di rumah saya karena mereka ingin menjenguk bunda. Pukul 22.00, perawat menyodorkan surat permintaan darah ke PMI karena kata mereka HB bunda saya masih rendah sekali. Saya kembali datang ke PMI dan alangkah terkejutnya saya ketika pihak PMI mengatakan bahwa stok darah yang sama seperti bunda saya sedang kosong. Mereka menyuruh saya membawa pendonor sendiri. Saya panik dan menangis lagi karena perawat meminta segera. Alangkah sulit mencari pendonor yang sama darahnya dengan bunda saya. Terlebih lagi, ini sudah pukul 22.30 malam. Saya dan Haty mulai menelpon kesana kemari. Teman saya mulai mem broadcast pesan keseluruh kontaknya untuk mencari pendonor. Sudah pukul 23.30, kami belum mendapatkan seorangpun. Saya duduk dengan hati yang sulit sekali saya gambarkan rasanya. Pandangan saya mulai kosong melihat warung kopi di depan PMI yang berangsur ditinggalkan pembelinya, menandakan waktu sudah hampir tengah malam. Tiba-tiba…

“Karina ya?”

“iya”

“yang tadi kirim twit ke @iloveaceh bahwasannya butuh darah?”

“iya”

“saya baca twit itu dan langsung kemari”

Belum sempat saya menjawab apa-apa, ia langsung masuk ke ruangan pendonor dan mulai mengisi form. Lima menit kemudian, ada 5 anak muda yang ternyata sedang menunggu Haty. Ternyata laki-laki itu teman adik Haty yang dihubungi untuk dimintai tolong mendonor darah.

Allahu… Allahu… Allahu… benar lah, tentara Allah dimana-mana. Sungguh pertolongan Allah cepat datangnya. Sungguh, urusan saya dimudahkan. Ucapan syukur tak pernah berhenti saya ucapkan karena “bantuan” ini. Allahurabbi… benar kata Allah, bahwa sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan… setelah kesulitan ada kemudahan… dan saya juga percaya ini keajaiban sedekah saya tadi pagi. Benar, doa orang tua itu telah di kabulkan oleh Allah agar dipermudah urusan saya. Alhamdulillah. Syukurku ke ufuk langit, ya Allah :)

Dan, Allahamdulillah juga, sekarang, bunda saya juga sudah sehat kembali. Mohon doanya dalam menjalani kemoterapi :)

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More