Wednesday, June 19, 2013

Yang Tak Tenggelam Bersama Senja


Seminggu sebelum hari H, aku sudah tidak bisa tidur. Cemas bercampur bahagia membuatku lebih menyukai terlena menatap langit-langit kamar dan membayangkan kado apa yang akan kuberikan daripada sekedar beristirahat malam. Semalam berikutnya kutulis sepatah dua patah kata di kertas wangi berwarna biru langit, warna kesukaannya. Malam berikutnya kupandangi dalam-dalam kado yang sudah dibungkus indah tersebut sebelum akhirnya kupejamkan mata. Malam-malam lain kuhabiskan untuk berfikir bagaimana mengejutkannya dengan bahagia.

Dari 11 tahun yang lalu, 19 Juni selalu kusambut dengan gelak tawa dan nyanyian merdu nan riang.

Kau tahu, apa yang menyebabkan orang ingin sekali kembali ke masa lalu? Karena di masa lalu ia menemukan kebahagiaan yang mungkin hari ini menjadi kebahagiaan yang luput dari genggamannya. Begitu juga denganku yang saat ini tengah mencari kebahagiaan yang sudah hilang karena sudah jauh-jauh hari kau rampas sendiri. Ya, kau yang memangkas segala rasa. Kau yang menginjak cita-cita yang pernah kita impikan. Kau yang tinggalkan aku bersama deru debu, hitamnya malam dan pahitnya kesendirian. Kau pergi membawa semua cahaya, menari menjauhi aku yang meraba dalam gelap. Tanpa alasan.

Membubuhkan makna pada semua kalimat tentang dirimu jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan kesulitan hidup setelah kau tiada. Bahwa memuntahkan cerita tentangmu seribu kali lebih mudah daripada saat pertama kali aku menyadari bahwa jiwaku terlalu gusar dan hatiku terlalu letih menahan sepi saat kau tak ada disini.

Kita sudah pernah berjarak jutaan kilometer, tetapi hatiku dulu tetap hangat dengan cerita-cerita tak penting kita dari telpon genggam. Sekarang, kita dikota yang sama, namun tak pernah lagi menyeruput teh bersama-sama. Tidak pernah lagi ke salon favorit kita sambil menunjuk gaya rambut model terbaru yang kita mau. Kita tidak pernah lagi melepas penat ke pantai sampai senja.

Sampai sekarang, aku masih ingin bertanya mengapa kau pergi tiba-tiba. Aku memang ingat dimana rumahmu, tetapi aku tak punya nyali untuk mengetuk pintu. Jujur saja, aku sudah lelah menduga-duga. Tetapi aku pun setengah mati mengutuk diri dengan segala perih yang tak terbantahkan, bahwa aku tak punya keberanian untuk bertanya langsung.

Kita pernah berbeda pendapat, berselisih paham. Mungkin, memang terlalu banyak guratan luka dibandingkan cerita yang tersisa. Mungkin kau sudah menyudahinya dari 5 tahun yang lalu dan sudah merasa lebih baik saat menginjak dan membuang kenangan ini. Tetapi bagiku, kau tetap melekat dalam ingatan. Kau tak ikut tenggelam bersama senja.

Sekarang dan beberapa tahun sebelumnya, aku memang tak lagi melakukan ritual-ritual cemas-harap-bahagia saat ulang tahunmu tiba. Aku juga tak lagi menyiapkan kado dan sebuah surat wangi. Tak lagi memaksa mata untuk tidak tidur hanya untuk mencari cara bagaimana memberikan sebuah kejutan manis. 5 tahun yang lalu adalah jarak panjang yang kau ciptakan untuk menghapus cerita. Hingga… Hanya ada satu yang sama antara hari ini dengan cerita-cerita dulu.

Aku bermimpi tadi malam, di malam ulang tahunmu. Mimpi tentangmu yang sudah lama sekali tidak hadir di sadar dan di-ketidaksadaranku. Dimimpi itu kau tetap angkuh, enggan mendongak untuk melihat dan sedikit sekali senyum yang tergambar. Tapi aku melihat kesedihan dari sepasang mata yang dulu menatapku lembut dan aku lama terdiam hingga aku tersadar dari mimpiku. Ah, sudahlah. Aku tak peduli lagi dengan arti kehadiranmu di malam ulang tahunmu. Seperti kataku, aku sudah lelah menduga-duga.

***

Malam ini, ku pejam mataku, kubiarkan logikaku lumpuh dikalahkan oleh sebuah rasa yang mengendap masuk menjelajahi kenangan demi kenangan yang tak bisa ku hapus. Kutatap foto-foto usang yang tak bisa kusentuh dan baru lah aku sadar, bahwa rindu itu menyentak, tepat saat hati tengah meretas kenangan.

Mungkin sesaat lagi aku akan pulang, meninggalkan kembali serpihan kenangan yang (semoga) tua dimakan zaman. Aku akan kembali kebawah naungan cinta dari sahabat-sahabat baru yang Allah ganti untukku. Sudahlah, sepertinya aku semakin sulit memahami rindu. Malam sudah semakin membungkuk. Rembulan sudah mati. Hanya hening, selebihnya cuma rindu untuk mengucapkan...

Selamat ulang tahun, kak.

2 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More