Tuesday, August 20, 2013

Tanya Yang Tak Terjawab


Dulu, saya pernah membaca sebuah roman picisan tentang hakikat kesempatan. Hingga halaman 300, kesempatan yang coba sang penulis paparkan masih sejalan dengan definisi kesempatan menurut saya. Bahwa kesempatan itu perlu di rayakan, bahwa saya perlu menari bersama waktu dan menikmati hari yang kami habiskan berdua, bahwa saya harus berdoa semoga rasa ini kekal meski kesempatan sudah berbelok menjauhi takdir suatu hari nanti, bahwa saya perlu menyimpan ingatan tentangnya setiap malam untuk saya jadikan kenangan saat kesempatan sudah hilang. Kawan, saya paham betul tentang hakikat kesempatan, bukan? Tetapi kenapa saya merasa sakit? Kenapa saya merasa sendiri dalam rasa?

Pada halaman 412, saya baru menemukan makna kesempatan itu sendiri dan ternyata berbanding terbalik dengan arti kesempatan menurut saya, bahkan orang banyak. Pada intinya, untuk membuat orang menyadari rasanya, cara terbaik adalah melalui hal-hal yang menyakitkan. Saya tak pernah sedetik pun pergi darinya, saya akan selalu ada saat ia butuhkan. Memutuskan pergi, menjauh, membiarkannya merasa kehilangan adalah satu-satunya kesempatan yang tak pernah saya lakukan. Selama ini saya tenggelam bersama rasa saya sendiri tanpa pernah tau kemana rasa tersebut akan bermuara. Saya semakin merasa sendiri.

Saya tak paham hakikat kerinduan. Terkadang ia manis seperti madu, nikmat untuk dicicipi. Terkadang ia menikam dari belakang, meluluh lantakkan raga, merobek jiwa. Paradoks sekali, bukan? Dan itu hanya karena satu alasan; kau. Rindu itu pernah manis karena perayaan yang kita buat. Kini rindu menjadi hal yang menyakitkan ketika kau tidak ada.

Sebenarnya apa yang saya kejar? Apakah cinta, kebahagiaan, kehangatan, canda tawa adalah sebuah ego? Sedang saya paham betul jika ego banyak dimainkan, maka saya harus bersiap untuk kecewa. Lantas apakah rasa sakit, gelisah, tak bisa tidur, sesak, kerinduan, kebencian merupakan output dari kekecewaan itu sendiri?

Dan kenapa ya, saat hati ingin sekali memenuhi segala kehendaknya, ia malah menjauh, membiarkan saya merayakan rindu dalam gelap dan senyap. Saat saya mulai belajar melepaskan, mematuhi segala guratan takdir, ia datang, mencungkil perasaan yang sudah saya kembalikan kepada Sang Pemilik Rasa.

Dalam hidup ini, memang ada berjuta tanya tentang perasaan yang tak mampu terjawab.

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More