Saturday, October 19, 2013

Berpikir Melingkar

Pukul dua belas tepat, ketika matahari benar-benar di puncak kepala, aku melepas kaca mata hitamku, mengambil tas yang ku taruh di kursi belakang mobilku dan menyerahkan kunci mobil kepada petugas valet. Didepan pintu masuk, seorang pelayan wanita berbaju dominan krem dan ber make up tebal menyapaku dan mempersilahkanku sopan. Aku tersenyum dan hanya mengangkat jari telunjuk dan tengahku saat ia bertanya “untuk berapa orang?”.

Hari ini aku berjanji akan mentraktir seorang teman. Sembari menunggu pizza pesanan kami terhidang, kami banyak berbicara. Ada kesenangan memang saat berbicara dengan teman baik. Bisa mengguyur suasana hati yang sedang gersang dan panas. Hingga pada saat aku memberitahu kabar baik tentang seseorang teman kami yang akan menikah dan ia amini dengan perasaan senang, temanku juga lantas berkomentar “alangkah bahagianya menjadi dia. Shalihah, cantik, pintar, juga cekatan. Bagaimana ya rasanya menjadi wanita sesempurna itu?”

Di waktu yang lain, aku sedang duduk-duduk di sebuah café bersama seorang teman yang lain. Aku sibuk dengan buku bacaanku. Ia sibuk dengan gadgetnya. Minuman kami belum tersentuh sama sekali. pembicaraan terakhir dengannya pun saat ia bertanya “ingin minum apa?” lima belas menit yang lalu. Sedetik kemudian ia menepuk-nepuk tanganku, namun ia tidak sedang melihatku. Aku menoleh ke arah matanya memandang. Seorang perempuan sedang duduk selang tiga kursi sebelah kiri kami. Ayahnya merupakan pejabat yang memiliki peranan penting di Aceh ini. Temanku berkata “kakak itu kuliah di Amerika. Keren sekali. Kapan ya aku bisa kesana? Tunggu bapakku menjadi pejabat dulu kali ya?”

Suatu hari, seorang teman yang lainnya lagi meminjam gadget ku. Ia sedang melihat-lihat foto di Instagramku. Tak lama, sambil menunjukkan layar gadget ke arahku, ia bertanya “ini siapa?” “temanku.” Jawabku. “orang kaya ya? Jam tangannya mahal sekali. tasnya juga, itu Furla edisi terbaru kan?”

Dan aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah ketiga temanku ini. Entah karena aku banyak menerima informasi melalui pembicaraan dari beberapa teman, entah karena dunia ini begitu mungil.

Wanita shalihah, cantik, pintar dan cekatan itu baru mengalami perampokan di rumahnya. Kerugiannya ditaksir mencapai 100 juta rupiah. Saat kejadian, ia ada di dalam kamar, bersembunyi di kolong tempat tidur dan berdoa agar tidak ketahuan oleh si pencuri. Sampai sekarang ia masih dalam keadaan trauma.

Kakak yang kuliah di Amerika itu sedang murung. Ayahnya baru saja di tetapkan sebagai terdakwa atas kasus korupsi. Masyarakat setempat sedang mencelanya habis-habisan. Ia hanya bisa terdiam, menenggak pil pahit atas kelakuan ayahnya.

Perempuan kaya raya yang memakai tas Furla terbaru itu tadi malam sedang bersedih hati. Di gemerlapnya dunia yang ia tinggali, ia rindu ayah ibunya yang sudah lama berpisah. Bahkan kartu kredit berwarna emas di dalam dompetnya tak mampu membeli keutuhan kedua orang tuanya.

Seandainya bisa seperti mereka, kata kalian.

Mungkin sejenak, kita perlu berfikir melingkar,
Demi menemukan diri yang sejati.
Tak lagi menganggap orang lebih bahagia dan kita begitu nestapa.
Serta pemahaman sederhana, bahwa kita tak pernah tahu apa yang telah mereka lalui.
Juga bahwa memiliki segala yang dapat dibeli uang,
tidak selalu menuntun kepada bahagia.

5 comments:

what a great thinking, Carin! Keep on writing, I love it :)

makasi Ana. Ana juga, keep posting tulisan bagus ya :)

nice ^_^,
moga dapat mengkilatkan pancaran batu itu menjadi sebuah berlian yang indah...

i wait your book,and send it with a signature please.. :)

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More