Thursday, October 3, 2013

E.

Perkenalkan…

Nama saya Karina. Saat ini saya sudah memasuki tahun ke 23 di universitas kehidupan. Saya memang tidak selalu mendapat nilai A di semua mata kuliah kehidupan yang saya pelajari. Dalam milyaran menit yang sudah saya habiskan di dunia ini, saya banyak belajar. Saya belajar menerima. Saya belajar memaafkan. Saya belajar melepaskan. Saya belajar beradaptasi dengan perubahan. Saya belajar berproses. Saya belajar mengalir. Saya pun tumpah dalam haru saat menyadari bahwa di setiap proses yang saya lalui, ada rasa yang mengiringi saya: pahit, manis, kegagalan, keberhasilan, kekecewaan, kebanggaan, kesedihan, kebahagiaan, tawa dan tangis.

Nama saya Karina. Hari ini saya belajar sebuah hal baru lagi. Saya belajar bahwa saya tidak pernah memiliki kendali atas hidup orang lain. Saya tidak bisa mengubah satu orang pun, dan akhirnya saya tersakiti bukan oleh tindakannya, melainkan oleh pengharapan (besar) saya sendiri.

Nama saya Karina. Yang… hei! Kabar saya baik-baik saja, gadis yang bermain es serut. Mari bermain lagi :)

8 comments:

pengharapan yang terlalu besar terkadang bisa menjadi bumerang tajam yang mencabik dagingmu sampain menyisakan luka pedih. Jika kau tidak memberikan antibiotik secepatnya lantas ia (luka) akan terinfeksi. Tidak sepatutnya berharap pada cinta yang tidak abadi. Akan melukaimu sendiri. Tapi sudahlah pada dasarnya diriku pun tahu, kau lebih paham teori ini. Namun kontrol diri atas rasa dan emosi yang terstimulasi sungguh sulit ditampik.. aku mengerti. dia juga butuh dimengerti. menurutku :-) mari bermain lagi. Tanpa pengharapan yang terlalu tinggi pastinya.

wah, bu dokter. kenapa baca "resep" bu dokter saya merasa postingan saya jadi seperti overreacted begini ya? tenang bu dokter, saya melatih hati saya untuk selalu "beban hidup di dunia ini tidak akan menenggelamkan hati saya kecuali saya membiarkan mereka masuk ke dalam hati saya sendiri" kok. dan tak ada luka yang tak ada obat kan dokter? saya sudah temukan obat nya. dia. dia yang melukai. dia yang mengobati. hehehehe :)

Dalam dekapan ukhuwah, kita juga tahu, menjadikan sesama peyakin sebagai cermin berarti melihat dgn seksama. Lalu saat kita menemukan hal-hal yg tak terkenan di hati dalam gambaran itu, kita tahu bahwa yg harus kita benahi bukanlah sang bayang2. Kita tahu yg harus dibenahi adalah diri kita yg sedang mengaca. Yg harus di perbaiki bukan sesama yg ktia temukan celanya, melainkan pribadi kita yg sedang bercermin padanya (Dalam dekapan ukhuwah)

Karin... lama tak bersua. Apa kabar?

Khairaaa!! apa kabar? uda siap kuliah yang di akuntansi? kangeeennn ngumpul-ngumpul lagi di kantin, crita2 sama oja, ocha, icut, bela, ngon, firna :')

insya Allah bulan depan wisuda, kalau ga ada masalah :) doakan yaa...
iya, kangen juga. sekarang di kampus tinggal adek2, banyak yang ga kenal, haha
dimana ni?

Salam kenal carina.
Blog yang bagus. :)

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More