Tuesday, November 12, 2013

Kepada Wanita Yang Ingin Kubuat Berbinar-Binar


Suatu hari saya dan kakak sedang berdiskusi. Tentang peminta-minta di jalan yang setiap hari semakin ramai saja. Mulai dari anak kecil yang bernyanyi dengan gitar kapuknya, pemuda yang menengadahkan tangan sambil menghisap rokok, hingga orang tua yang kakinya berbalut perban bahkan memakai kursi roda.

Tentu sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka itu hanya ada di level terbawah dari “permainan” orang-orang yang berkepentingan. Pengemis dijadikan lahan bisnis. Mereka meminta-minta dari satu tempat ke tempat lain. Ada kendaraan yang memudahkan mereka untuk selalu bergerak ke titik-titik yang sudah diatur oleh atasan mereka dan sebagai gantinya, mereka wajib menyetor sebagian pendapatan mereka.

Kehadiran mereka membuat kita semakin sulit membedakan mereka yang berpura-pura dan mereka yang benar-benar butuh. Di tambah lagi pemberitaan bahwa pengemis memiliki rumah yang bagus, pengemis tidur di hotel, pengemis minta digaji 10 juta. 

***

Suatu hari, saya dan kakak sedang makan di sebuah tempat yang gak bagus-bagus amat (tapi makanannya uenakk!) tiba-tiba datang seorang nenek yang sudah sangat renta. Mungkin usianya sudah 80 ke atas. Di hari yang terik seperti ini, ia tetap berjalan tanpa lelah dengan tubuh ringkihnya. Saya jadi kasihan melihatnya. Saya kira ia akan meminta sedekah dan datang ke meja-meja beberapa saat lagi. Saya sudah membuka dompet dan mengeluarkan sejumlah uang untuknya. Ternyata tidak. Ia hanya menawari pisang yang banyak sekali dibawanya. Pemilik warung sedang memilih-milih pisang saat saya datang hendak memberikan sejumlah uang untuk nenek tersebut. Saya pegang tangannya, saya berikan uang itu padanya. Ia menarik tangan saya sambil bilang,

Neuk, ambil pisangnya.”

“eh, gak papa, Mak”

“ambil pisangnya, bagus-bagus, Neuk

Ia pilihkan saya lima sisir yang kemudian saya minta kurang menjadi tiga sisir saja untuk saya bawa pulang. Setelah mendoakan untuk kebaikan saya dan kakak, ia pamit pergi. Kemudian pemilik warung berkata kepada kami,

“dek, nenek itu emang begitu. Dia nggak mau dikasi sedekah. Saya aja sering ajak beliau makan disini. Gratis. Tapi beliau tetap tidak mau gratis. Beliau tetap bayar meski hanya lima ribu rupiah.”

Saya dan kakak pulang dengan rasa haru. Air mata kami tumpah. Orang yang benar-benar miskin tidak akan pernah meminta-minta. Ia akan meninggikan derjatnya dengan terus berusaha. Orang seperti ini lah yang WAJIB kita bantu.

Kesimpulannya, saya dan kakak saya sepakat, bila tetap ingin bersedekah di lampu merah, bersedekah lah, kepada siapapun orangnya. Bila pun tidak ingin bersedekah, maka jangan juga mencelanya.

Saya dan kakak saya sih tidak lagi memberikan sedekah di lampu merah. Sudah banyak yayasan, lembaga, institusi yang bersedia menampung sebagian rezeki yang hendak kita berikan kepada orang yang membutuhkan. Ini bukan postingan berbayar, tapi urusan zakat dan sedekah saya selalu mengandalkan Rumah Zakat.

Oh iya, tadi pagi saya ke pasar untuk membeli “isi kulkas” yang sudah mulai kosong. Seperti biasa, sayuran adalah jatah untuk nenek-nenek yang duduk di kiri kanan jalan menjajakan dagangannya berpanas-panasan di bawah matahari. Saya membeli bayam dan kangkung. Total belanjaan saya hanya lima ribu rupiah, tapi saya lebihkan bayaran saya dan disambut dengan mata berbinar-binar dari nenek tersebut.

seseorang yang ingin kubuat berbinar-binar


Duh. Saya merasa tidak berguna. Hanya mampu menatap dari kejauhan saat nenek-nenek itu duduk berpeluh keringat beralaskan tanah dari pagi hingga senja. Semoga saat saya beranjak pergi tadi, engkau lebih senang. Lebih bahagia. Semoga ada sedikit senyum. Izinkan saya membuatmu berbinar-binar. Dan semoga itu cukup untuk menciptakan surga dalam ruang kecil yang tersembunyi disudut batinmu. Semoga.

4 comments:

ahhhhh,,terharuuuuu :(
semakin mencintai wawakkkk :*
cintamu selalu tulus..

wah jangan memuji, bude! nanti kami bisa tercekik :))
cayang bude jugaaa

hahahaha,,kmi ga maen cekik kok,,
cinta sekedarnya utkmu, tdk melebihi yg seharusnya :*

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More