Thursday, January 2, 2014

Duka di Penghujung Tahun

Zhafran, Saya, bunda :)

Suatu hari saya bercerita dengan seorang teman bahwa saya kehilangan hasrat untuk belajar di Jakarta. Saya lebih suka jalan-jalan, nonton, hunting makanan enak, ketimbang belajar. Saya juga bercerita bahwa saya sudah membeli tiket pulang ke Aceh, padahal saya baru tiga minggu di Jakarta. Saya sudah mempersiapkan jawaban-jawaban pembelaan diri jika saya di omeli karena ketidakseriusan saya. Lantas, dia menjawab (kira-kira begini) “pulang lah. Mungkin memang harus pulang dulu sebentar supaya kamu mengerti apa sebenarnya tujuan kamu ke Jakarta”. Dan saya tidak faham.

***

Dua hari sudah saya berada di Banda Aceh. Saya bahagia. Saya kenyang. Rasa-rasanya malas balik ke Jakarta. Ingin di Aceh selamanya.

***

Selama 6 bulan terakhir ini, saya selalu menemani bunda (adik mama) yang menderita kanker payudara stadium akhir. Saya selalu bersamanya baik saat konsultasi, pemeriksaan, operasi, rawat inap hingga kemoterapi. Beliau semangat sekali untuk sembuh, sehingga saya pun bersemangat sekali untuk selalu menemani beliau.

Hingga saya harus berangkat ke Jakarta. Saya berpisah dan meminta maaf bila ada salah saya selama ini terhadap beliau. Saya katakan sampai jumpa di Jakarta karena setelah beberapa hari saya berangkat, bunda dan suaminya juga akan menyusul kesana untuk mendapat perawatan medis yang lebih baik di rumah sakit khusus kanker daripada terus berada di rumah sakit daerah.

Selama dua minggu kami sama-sama di Jakarta (walaupun saya di rumah dan bunda di rumah sakit), saya belum pernah sekali pun melihat beliau. ada beberapa kali taksi yang saya tumpangi lewat di depan rumah sakit tempat bunda di rawat, namun saya berkata dalam hati “lain waktu saja ya”.

Sampai saya pulang sebentar ke Aceh, saya belum mengunjungi bunda saya. Kabar terakhir yang saya dapat adalah bunda sudah agak sehat. Beliau senang disana karena perawatnya baik dan tidak jijik saat merawat pasien, alat-alat yang digunakan pun lebih canggih daripada ketika bunda di rumah sakit daerah. Jadi harapan saya adalah bunda sembuh dan akan pulang.

Tanggal 31 sore, hp saya berdering. Telpon masuk dari sepupu. Mengabarkan bahwa bunda yang selama ini saya rawat sudah meninggal dunia. Tanpa terasa, mata saya panas. Tangis saya tumpah. Hati saya seperti hendak meledak. Jantung saya seperti dihantam godam. Tubuh saya berguncang dengan hebatnya. Kaki saya tak kuat lagi menopang badan. Saya tersungkur, menangis sedalam-dalamnya.

Tak sanggup untuk tidak menitikkan air mata bila mengingatnya. Bunda yang keren, yang baik, yang periang, yang memiliki semangat untuk sembuh yang begitu kuat, bunda yang paling saya sayangi, kini telah tiada karena kanker payudara yang dideritanya sudah menggerogoti hati dan tulang belakang. 31 Desember 2013 menjadi hari yang paling menyesakkan dan meninggalkan kepedihan begitu mendalam untuk keluarga besar saya. Terlebih saya yang memiliki kedekatan emosional dengan dirinya.

***

Semua hal memang sudah diatur oleh Allah SWT. Allah mencintai bunda dan sepertinya sudah rindu sekali untuk berjumpa dengan bunda. Seperti kataNya kepada Nabi Ibrahim “kekasih mana yang tidak ingin berjumpa dengan kekasihnya?”

Lebih baik bunda pergi untuk menjumpai Sang Penggenggam Jiwanya daripada harus menanggung derita dan rasa sakit yang tiada habisnya. Yang penting, beliau sudah berikhtiar hingga akhir hidupnya.

Hanya kenangan. Kenangan disetiap sudut ruangan (karena bunda lama tinggal di rumah saya), kenangan yang terpatri di kepala, kenangan yang bersemayam di hati, ya, kini hanya tinggal kenangan. Kenangan yang semoga terus menjadi stimulus saya untuk tak henti-hentinya berdoa kepada Allah agar bunda mendapat tempat terbaik di sisiNya dan agar kuburnya menjadi taman-taman surga yang harum mewangi.

Kini, yang tertinggal dari bunda adalah 2 anak soleh dan solehah yang begitu tegarnya menghadapi kenyataan bahwa mereka sudah piatu. Untuk beberapa tahun kedepan sepertinya ayah mereka akan sulit memberi jajan yang cukup untuk mereka karena gaji beliau sudah di potong bank untuk pengobatan bunda yang tidak sedikit selama 6 bulan ini.

***

Saya teringat lagi kata-kata teman saya. “pulang lah. Mungkin memang harus pulang dulu sebentar supaya kamu mengerti apa sebenarnya tujuan kamu ke Jakarta”.

Kepulangan saya, kepergian bunda, hutang yang akan ditanggung suaminya beberapa waktu kedepan, nasib anak-anaknya yang pintar itu, membuat saya dalam keadaan 100% termotivasi untuk fokus belajar dan mencari kerja untuk menyekolahkan mereka. Mereka harus berpendidikan tinggi, menjawab dunia dengan tekad bahwa menjadi piatu tidak menyurutkan semangat belajar mereka.


Dan, bunda pun pasti senang disana :)

Shalawat penuh cinta untukmu bunda Rahimah ku :')

8 comments:

Innalillahi wa inna ilaihi raajiun...
Semoga beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, amin ya rabb...

Lagi di mana Rin?

Semoga ini menjadi motivasi terbesar qmu utk menjadi lebih sukses lagi utk diri sendiri dan orang-orang sekitar, pastinya :)

amin, allahumma amin. makasi khaira. karin uda di jakarta lagi ni kenapa?

Semangat in.. insyaallah niat baik bakalan terkabul.. amin ya rabb

dan bunda pasti sangat bahagia krena memiliki keponakan yg memiliki hati yg bgitu tulus dan mulia :*

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More