Tuesday, February 25, 2014

Keep Going

Ada hal yang sangat saya sukai setelah lebih dua bulan tinggal di Jakarta. Sesuatu yang tak pernah bisa saya lakukan ketika saya di Aceh. Berjalan kaki. Bukan hanya sekedar berjalan kaki, namun benar-benar berjalan kaki, sambil menikmati pemandangan yang terhampar di kiri dan kanan saya.

Saya suka berjalan kaki. Karena saat berjalan kaki, dalam waktu yang kadang tak lebih dari sekian menit—batin saya mengambil alih. Dengan ketenangan yang tak pernah saya duga ada. Dalam kesunyian yang mendamaikan. Dalam keheningan yang menyejukkan. Apalagi ketika saya sedang bersedih hati. Saya sanggup berjalan pulang dari tempat kursus yang jaraknya lumayan jauh dengan tempat tinggal saya. Di jalan lah saya banyak berpikir. Saya banyak memandang sekitar. Saya banyak menangis. Tak akan ada yang melihat saya mengeluarkan airmata. Tak akan ada yang memperhatikan suara isakan yang memang jelas kalah dengan desau suara kopaja-kopaja yang melintas. Seperti yang saya lakukan kemarin.

Ya, kemarin saya bersedih hati. Saya lupa kapan terakhir saya benar-benar bersedih hati seperti ini. Bukan karena saya sedang berada dalam suatu pertengkaran. Tapi karena adanya perbedaan yang nyata antara harapan dan kenyataan. Terhadap seseorang, yang saya harapkan. Beberapa kalimatnya membuyarkan harapan selama ini, lantunan aksaranya mematahkan kata-kata yang selalu saya rangkum menjadi doa. Ah, sesak kalau harus menuliskannya disini. Bahkan luka di jari yang terhunus pisau kemarin pun menjadi tak berarti lagi.

Saya tau saya salah. Saya mengharapkan sesuatu. Saya tidak mendapatkannya. Saya kecewa. Tapi saya bersyukur, hari ini, saya merasa lebih baik daripada hari kemarin. Saya sadar hal ini kembali lagi pada konsep keinginan dan kebutuhan. Dua-duanya baik, tapi kebaikan menurut diri belum tentu baik menurut Allah. Dan, meski kesedihan masih membekas, saya yakin Allah selalu punya cara terbaik dalam merespon setiap doa. Ada doa yang dikabulkan, ada yang di tunda, dan ada pula doa yang ditangguhkan di akhirat nanti. Tak akan ada yang sia-sia. Sekarang, bagaimana saya tidak boleh lama-lama terpuruk, tetap berpositif thinking, berusaha bangkit dan terus maju.

Apapun yang terjadi kedepannya, sebelum akhirnya kita sama-sama bahagia dengan pilihan-pilihan kita, saya berdoa agar kita semua senantiasa diingatkan—melalui peristiwa sehari-hari, keajaiban-keajaiban kecil yang kita alami dan siapapun yang kita temui—bahwa sesungguhnya hidup tidak pernah berhenti menawarkan hadiah.

Bahwa sesungguhnya segala pedih akan berlalu pada waktunya. Kesedihan akan sirna jika sudah saatnya, dan getir tidak akan tinggal tetap. Pun kebahagiaan, kegembiraan dan sukacita.

Bahwa cinta adalah sesuatu yang nyata, ada dan layak dipercayai. Tak perlu diwadahi. Tak perlu dipaksakan.

Alhamdulillah, hari ini saya masih bisa mengintip kekurangan dan kesalahan. Untuk menjadikan saya paling tidak sehari lebih dewasa. Saya yakin, suatu hari nanti, Allah akan mengabulkan setiap mimpi. Nanti. Pada waktu yang paling tepat dalam hidup saya.

“If everything has been written down, so why worry, we say..”
(Grow a day older – Dewi Lestari)

5 comments:

...
*mata dan hati menggerimis*
adek kenapa? kami peluk dari jauh yaa.
*kangen dirimu dan cerita-ceritamu*

jadi setelah baca post ini kakak langsung texted kami utk tanyakan keadaan kami? awwww.... tuah juta2 utk kakak :*

lama ga ngintip 'rumah' nya ayin kamii,,,kangenn itu udah jelas..selalu jatuh cinta dengan caramu menulis,selalu sampai maksudnya, ahhh..kita di kota berbeda tp kita mengalami hal yg sama *pelukeratsekali*

peluk bude juga. rindu kali berada di sekeliling orang-orang yang dengannya bikin syukur kami bertambah2 :(

ayukkk pulanggggg,,dan jangan pergi lagiiiiiii...

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More