Friday, April 25, 2014

Bromo: Amazing Experience

Awal Februari kemarin, teman saya, Cia, datang berlibur ke Jakarta. Saya menjemputnya ke bandara. Sepanjang jalan, kami cerita banyak hal. Salah satunya liburan. Entah apa yang ada dipikiran saya saat itu. Tiba-tiba terlintas “bromo, yuk?” dan bagaikan gayung bersambut, Cia menyetujuinya. Setelah 5 hari pertama kami menjelajahi Jakarta, kami mulai menyusun rencana yang matang untuk pergi ke Bromo, mulai dari membaca blog orang-orang yang sudah pernah kesana sampai membuat perbandingan harga tiket. Saya juga menelpon teman saya yang sedang melanjutkan studi nya di Surabaya dan memintanya (maksa sih sebenarnya) untuk menjadi guide kami disana. Akhirnya dia yang mengatur segala hal yang diperlukan disana. Tiket sudah dibeli. Perjalanan akan dilakukan 2 hari lagi. kami mulai mempersiapkan hal yang dibutuhkan seperti tolak angin (PALING PENTING!), baju hangat, sepatu, dan power bank (gak mau kan lagi asik foto-foto, handphone nya kehabisan baterai?).

Entah karena terlalu bersemangat, padahal berangkat masih dua hari lagi, tapi kami berdua sudah menyiapkan semua keperluan selama disana. Tapi berkaca dari liburan-liburan sebelumnya yang kebanyakan gagal daripada jadinya, kami memutuskan untuk nggak heboh di social media dulu.

Tanggal 7 Februari 2014 pukul 22.00, kami tiba di Bandara Juanda dan langsung disambut hangat dengan Cen dan Muzanna (nb: mirip Pepe, defender Real Madrid dan akan saya panggil “Pepe” di kalimat-kalimat berikutnya). Kata Cen, jam 3 dini hari kami sudah harus tiba di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan perjalanan pun di mulai dengan Cen, Pepe, Cia dan saya sebagai anggota. 

personel bolang

Perjalanan ke Probolinggo ditempuh sekitar 4 jam dengan jalanan kecil yang rusak (PARAH), tanjakan yang serem banget, tikungan yang tajam dan keadaan yang sangat mencekam (ngga ada listrik). Bisa jadi uji nyali ke dua terserem tuh. Juara pertamanya tetep cek saldo ATM di tanggal tua :|

Jam 02.00 dini hari, kami berempat sampai ke penanjakan I dan langsung di sambut dengan bapak-bapak jualan kupluk yang godain Cia karena sama-sama berkupluk merah. Saya sukses sakit perut nahan tawa disitu. Ohya deal harga Jeep dan buang air harus dilakukan disini. Di Bromo nggak ada wc :))

Harga Jeep nya 350 ribu untuk ke penanjakan dan kawah Bromo. Untuk ke Padang Savana dan Pasir Berbisik harus tambah 150 ribu lagi. Kami putuskan untuk pergi sampai ke Pasir berbisik dan pukul 03.30 dini hari, kami pun berangkaaat.

suasana di penanjakan I

Kalau sedikit jantungan, lebih baik tidur saja pas perjalanan ke pananjakan. Supirnya edan! Dengan jarak pandang sekitar 1 meter di dalam kabut dan dijalan yang sangat parah kondisinya serta tanjakan yang kemiringannya bisa sampe 60 derajat, dia masih bisa ngebut. Saya akui si Pepe, supir yang gesit banget di jalan rusak tadi kalah edannya dengan supir jeep 4WD ini.

Sampai di pananjakan keadaan udah rame banget. Dan udara di sana bisa bikin ingus jadi beku. Dingin parah! Banyak yang menyewakan jaket disana. Tapi seperti yang sudah saya ceritakan perlengkapan matang saya dan Cia di awal tadi, kami gak lagi membutuhkan itu semua :))

sebagian orang yang lagi nungguin sunrise

Ternyata kami belum diizinkan untuk melihat matahari terbit di view point pananjakan. Kabut terlalu tebal, penonton pun kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, kita tidak bisa menyalahkan alam. Salahkan diri kita sendiri kenapa datang pas musim hujan *hammer*

ngga ada mataharinya :/
Setelah itu, kami turun lagi ke pos penanjakan II. Ohya, jangan lewatkan bermacam dagangan panas yang enaaaak banget disini. 

enak banget!
Perjalanan dilanjutkan menuju hamparan pasir bromo.banyak yang menyewakan kuda disini. Harganya pun bervariatif. Awalnya saya menolak dan mencoba berjalan kaki hingga ke kaki Bromo. Tapi karena Pepe bilang kami harus menaiki 250 anak tangga untuk sampai ke puncak Bromo, saya pun menghemat tenaga dengan naik kuda. 

 
sama Manggis :3


menuju puncak bromo
Akhirnya! Sampai di puncak Bromo. Di puncak Bromo ini kita dapat melihat begitu besarnya kawah dengan dinding yang sesekali runtuh dan pusat kawah yang mendidih mengeluarkan asap membumbung. Selain itu disini lah puncak tiupan angin yang membawa pasir terhempas sekuat-kuatnya yang membuat kami tidak begitu menikmati pemandangan karena mata sering terpejam manahan tiupan angin berpasir.

dari puncak bromo
 
kawah Bromo
Setelah puas foto-foto, kami berempat turun lagi. Manggis sudah menunggu di kaki gunung dan siap mengantarkan saya kembali ke Jeep.

Tujuan selanjutnya adalah Padang Savana atau sering juga disebut taman teletubies karena bentuknya yang berbukit-bukit. Saya banyak ambil foto disini. View nya indah banget dan bikin saya kangen selalu. Kata Cen, kalau lurus lagi kita bisa sampai ke ranupane, basecamp pertama kalau mau naik gunung Semeru. 

Padang Savana

Tujuan terakhir adalah Pasir Berbisik. Tidak ada apa-apa sih, hanya padang pasir dan beberapa anjing jinak disana. Disana saya merasakan awan seperti dekat sekali dengan kepala saya.

Pasir Berbisik
 
Anjing jinak di Pasir Berbisik
Demikian lah, perjalanan kami di Bromo selesai. Kami kembali ke penanjakan I dan bersih-bersih disitu. Saya mulai masuk angin karena berjam-jam di udara yang dinginnya gak nyantai itu hehe. Setelah itu, Pepe menawarkan untuk melanjutkan perjalanan ke air terjun Madakaripura. Saya, Cia dan Cen tertidur pulas karena kecapekan sementara Pepe semakin mirip dengan Pepe di Real Madrid karena nyetirnya masi kuat banget :))

Setelah perjalanan yang cukup lama, kami pun sampai disana. Ternyata harus menyebrang sungai untuk mencapai air terjut tersebut. Setelah menyebrang sungai yang kata Cen dan Pepe “deket kok” tapi memerlukan tenaga berlebih untuk berjalan di antara batu-batu tajam, arus yang deras sampai memanjat tebing (hih!), sampai lah kami ke air terjun tersebut.

air terjun madakaripura
 
:)

Dari dulu saya memiliki impian untuk travelling ke luar negeri, tetapi perjalanan ke Bromo membuka mata saya bahwa di negeri sendiri masih banyak tempat indah yang bisa dikunjungi, bahkan jauh lebih indah dari luar negeri. Cobalah sesekali kesana untuk menikmati alam Indonesia yang luar biasa indah.

6 comments:

Rahmah baru tahu, ternyata di dekat bromo ada air terjun.

Nice story, Carina. :)

iya masih di kawasan taman nasional bromo tengger semeru. cantik banget. btw salam kenal ya rahmah :)

ahhhhhh,,pengennnnn..wawakkkkk bawa kmi donkkkkk..

hahahahaha namanya bukan "cia", sebut saja "booo" ckckckckck

tumben travelling x ni gak gagal kayak mau ke sabang yg udh direncanakan ituuu hahahahaha

bude dan kak lia: yooookkkkkk :D

oja: aku kenalin bo ke orang2 pake nama cia biar dia senang :))

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More