Saturday, April 12, 2014

Tanpa Kata

Sudah empat bulan ini saya tinggal disebuah apartemen di jantung ibukota. Tinggal di lantai tujuh belas dan memiliki balkon menghadap timur yang cukup luas membuat saya selalu terpana menikmati matahari pagi yang mulai menampakkan diri.



Saya akan disana selama bermenit-menit tanpa melakukan apapun. Kadang saya mendongak kebawah, mengamati anak kecil yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Saya juga mendengarkan deru mesin mobil yang siap membelah jalanan ibukota. Saya juga memperhatikan berbagai tukang jajanan lewat. Lontong sayur, bubur ayam, ketoprak, soto lamongan dan banyak lagi. Ketika saya sudah bosan mengamati apa yang terjadi di bawah, saya akan melihat keatas.



Semburat fajar yang memecah dingin subuh. Menghangatkan jiwa.



Langit pagi adalah sesuatu yang sangat saya sukai. Sejuk yang menerpa kulit, udara segar yang terhirup, kicauan burung yang terbang dan berkeliling benar-benar menjadi suguhan terindah dari Tuhan sebagai hadiah untuk orang yang bangun pagi.



Pagi itu saya berdiri dibalkon. Menikmati “hadiah” seperti hari-hari biasa. Beberapa menit kemudian, saya beranjak dan kembali ke kamar untuk mengambil telpon genggam yang saya letakkan diatas buku yang tadi malam saya baca. Setelah telpon itu berpindah tempat ke tangan saya, saya pandang lamat-lamat benda tersebut. Beberapa pesan masuk, tetapi jemari tak kunjung bergerak. Keinginan membalas pesan pun lenyap. Pagi itu, saya matikan sebuah akses penting penghubung saya dengan keluarga dan teman-teman.



Hari itu, dalam perjalanan ke Monsoon, saya lebih banyak memandang keluar jendela taksi yang saya tumpangi. Saya lebih banyak memperhatikan mobil yang berjejer rapat, menyemut di jalanan ibu kota. Telpon genggam beristirahat manis di tas.



Hari itu dan berhari-hari setelahnya, social media seperti whatsapp dan twitter yang tak bisa lepas dari pantauan, kini tak lagi tersentuh.



Setelah berapa hari dilakukan, saya merasa lebih baik. Saya lebih banyak beristirahat, Saya lebih banyak membaca. Saya lebih banyak menulis. Saya lebih banyak tertawa menonton “Indonesia Lawak Klub”. Saya lebih banyak berinterkasi dengan teman-teman baru saya. Saya memuaskan diri saya sendiri untuk menonton Captain America: The Winter Soldier berkali-kali demi melihat bonus scene yang saya lewatkan diawal.



Selama beberapa hari, memang saya jadi banyak ketinggalan informasi. Saya tidak tau Real Madrid akan berhadapan dengan siapa di semifinal Liga Champion. Saya tidak tau partai apa yang mengumpulkan banyak suara dalam pemilu legislatif. Saya tidak tau kabar terbaru tentang Novak Djokovic. Saya tidak tau apapun. Tapi karena itu lah, dunia nyata menjadi tampak menarik kembali. Dunia yang dulu sempat saya anak tirikan semenjak adanya “@” dan “#”



Jakarta, 12 April 2014.

Yang baru hilang resahnya,

Carina A.

3 comments:

Selamat datangg kembaliiiiiii....

makasiiiiii bude. mana nih foto2 umroh nya? mau liat laa :D

udah kan d ig,,yg d blok blom siap nulisnya..

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More