Wednesday, June 25, 2014

Lombok: I Called It Paradise

Terbang ke Lombok


Saya berangkat dari Bandara Soeta menuju Bandara Internasional Lombok (Praya) dengan waktu penerbangan 2 jam. Sesampainya di Praya, saya langsung dijemput pihak hotel dan mobil pun membawa saya ke penginapan di daerah Pantai Senggigi. Lelah selama perjalanan pun hilang ketika melihat pantai saat saya membuka beranda. Karena sudah petang, jalan-jalan baru bisa dilakukan esok hari. Saya hanya keluar untuk makan malam di pinggir pantai sambil melihat sunset.

lauuuuut
di depan kamar saya

Senggigi Beach Hotel
Tur Budaya-Kuta-Selong Belanak

Jalan-jalan pertama saya adalah ke tempat wisata kerajinan khas Lombok. Setiap waktu banyak sekali wisatawan asing dan domestik yang sengaja datang untuk melihat langsung proses tenun. Tidak hanya sebatas membeli dan melihat, pengunjung juga bisa ikut belajar membuat kain tenun tersebut.



Perjalanan dilanjutkan ke Desa Sade, yang merupakan desa suku sasak asli. Di Desa Sade saya masih bisa menyaksikan bentuk rumah beratap ijuk dengan tradisi masyarakat setempat yang masih asli. Meski letak desa tersebut tepat dipinggir jalan raya yang beraspal dan banyak dilalui kendaraan, Sade tetap bertahan sebagai desa asli suku Sasak. Modernisasi yang menyerbu Pulau Lombok sepertinya tak kuasa mempengaruhi desa tersebut :D

rumah asli suku sasak

Setelah dari desa tersebut, saya rehat sebentar untuk makan dan shalat. Perjalanan pun dilanjutkan ke Lombok Tengah, ke Pantai Kuta. Bukan, bukan Kuta yang di Bali. Tetapi pantai indah di Lombok yang juga bernama Kuta. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WITA dan masih ada pantai yang hendak saya kunjungi, akhirnya Pantai Kuta hanya bisa saya pandangi dari Café Ashtari sambil minum kelapa muda seharga 35.000 :))

Ashtari Cafe & Lounge
pantai kuta dari kejauhan
banyak bule juga :D

Setelah mengambil cukup banyak foto, saya bertolak ke Lombok Tengah untuk melihat Pantai Selong Belanak yang unik. Kenapa saya bilang unik? Karena jika pantai dengan pasir putih yang halus ini menyatu dengan air laut, pasir tersebut akan menjadi keras. Tidak heran bila melihat beberapa kendaraan bermotor bisa kebut-kebutan di bibir pantainya. Selain pasirnya yang bisa mengeras, pantai ini juga memiliki dua ombak. Di sisi kiri menyuguhkan ombak yang tenang dan di sisi kanannya menyuguhkan ombak yang agak tinggi. Oleh karena itu, di sisi kanan ini kerap dijadikan sebagai spot surfing.

pantai selong belanak



view di perjalanan ke pantai selong belanak

Tak terasa, waktu sudah petang. Meski sebenarnya tubuh saya belum lelah dan ingin terus menjelajah, saya harus kembali ke hotel untuk beristirahat. Sunset saya ambil di daerah Senggingi dengan penampakan Gunung Agung yang terletak di Bali.



Gili Meno – Gili Trawangan

Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan adalah tiga gugusan pulau kecil yang terletak di utara Pulau Lombok.  Karena keterbatasan waktu (petang nanti saya terbang ke Bali) saya hanya mengunjungi Gili Meno dan Gili Trawangan saja. Saya berangkat dari pelabuhan Senggigi yang saya capai hanya dengan 10 menit berjalan kaki.
pantai senggigi
 Sesampainya di pelabuhan, tour guide sudah menunggu dan tak lama saya pun sudah diatas boat dengan hati yang berdebar-debar. Bagaimana tidak, sudah sejak lama saya memimpikan suatu hari dapat menginjakkan kaki ke Gili, melihat kecantikan primadona Lombok ini dengan mata saya sendiri. Dan hari ini impian itu terwujud. 

menuju gili!
Setelah 45 menit perjalanan, akhirnya saya sampai di Gili Meno. Gili Meno memiliki luas daratan paling kecil diantara Gili lainnya. Meski kecil, Gili Meno menyimpan keindahan yang luar biasa. Airnya jernih sekali. Disini kita juga bisa menjumpai penyu yang sedang berenang bebas. 

gili meno
crystal clear water
:D
Setelah puas di Gili Meno, saya kembali naik boat untuk menyebrang selama 15 menit ke Gili Trawangan. Tak seperti di Gili Meno yang sepi, Gili Trawangan begitu ramai pengunjung dan saya merasa seperti turis di negeri sendiri karena disana hampir 80% bule semua. Saya sampai kesana bertepatan dengan berkumandangnya adzan zuhur. Keadaannya timpang sekali. Suara adzan dan bule berbikini. Tour guide seperti bisa membaca pikiran saya dan berkomentar bahwa bule-bule ini awalnya melarang suara adzan dengan volume yang besar. Tetapi ini Lombok, kota seribu masjid yang akan terus mengumandangkan adzan di 5 waktu. Jika mereka tidak senang, mereka yang harus keluar dari Lombok.
gili trawangan!


Ohya, Gili Trawangan (maupun di Gili Meno dan Gili Air) merupakan tempat yang tidak memperbolehkan kendaraan bermotor untuk masuk kesana. Karena itulah, Gili Islands ini tidak ada yang namanya polusi udara seperti asap kendaraan dan semacamnya, benar-benar bisa menyejukkan paru-paru bagi yang biasa tinggal di perkotaan yang penuh polusi.

Untuk berkeliling di Gili Trawangan ada transportasi umum yang disebut cidomo (dokar atau andong) yang ditenagai oleh seekor kuda dan duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja :D. Selain itu, bisa juga menyewa sepeda untuk berkeliling dengan harga yang cukup bersahabat. 
pejalan kaki

naik cidomo :D

Tidak terasa, hari sudah menjelang sore dan saya harus pulang ke hotel untuk terbang ke destinasi selanjutnya: Bali.

My promise to myself, since I fell in love, I wanna do it again and again. Next trip will be as breath taking and remind me how small I am, how great is He and how blessed we are to have this.

:)

5 comments:

yok bude.... traveling bareng kitaa :*

cariin, ini perginyaa sama siapa? ikut paket atau community travelling gt??

pigi pribadi aja nda sama keluarga, gak ikut paket apa2... hihihi :D

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More