Thursday, June 12, 2014

Mentertawai Diri Sendiri

Tertawa. Tertawa adalah salah satu pertanda bahwa seseorang masih bisa membedakan antara kepedihan dengan kesenangan. Tertawa adalah pertanda bahwa seseorang masih mampu membedakan mana dagelan dan mana keseriusan. Tertawa menjadi bukti bahwa seseorang sedang berduka atau bersuka. Tertawa merupakan isyarat bahwa seseorang masih punya rasa.

Waktu masih menjadi anak kuliahan, saya pernah tempus saat sedang puasa sunnah hanya karena semangkuk soto di kantin (anak ekonomi pasti tau betapa lezatnya soto tersebut). Diwaktu yang lain saya juga pernah menitip absen saat sudah berikrar semester ini tidak akan bolos kuliah lagi. Atau tugas yang masih saja saya pinjam untuk saya fotokopi walau sudah bertekad akan dikerjakan sendiri.

Dan saya tertawa. Mentertawakan diri sendiri karena janji-janji yang pernah saya ikrarkan. Sebab disana ada kelucuan, kebodohan dan inkonsistensi.

Janji kepada diri sendiri adalah janji yang unik. Tak ada risiko dan konsekuensi. Karena itulah barangkali saya terlalu mudah melakukannya dan terlalu mudah pula melupakannya. Selalu, dan terus berulang. Layak rasanya menertawakan diri karena kelakuan itu, seperti anak kecil yang tak pernah mengerti dan tak mau tahu akibat dari ucapannya.

Janji kepada diri sendiri tentang rencana, target atau obsesi nyaris tak ada hukum dan sanksi sebab memang tidak ada yang mengawasi, tak ada yang menghukum. Kita bebas berjanji apa dan kapan saja, dan bebas pula melanggarnya. Kita merdeka untuk menyusun rencana apapun, dan merdeka pula untuk tidak melakukannya. Kita mungkin pernah berjanji pada diri sendiri untuk bekerja keras, misalnya, agar dua atau tiga tahun kedepan kita bisa punya usaha sendiri, atau melanjutkan kuliah dan sebagainya. Tapi janji itu kemudian tak kita penuhi, dan kita tak pernah merasa berdosa karena memang tak ada yang mengawasi dan tak ada yang memarahi.

Perjalanan hidup seseorang di suatu waktu, tidaklah menjadi ukuran apapun bahwa ia akan menjadi seperti apa di masa yang lain. Sepotong episode hidup kita di satu waktu, tak pernah pula menjadi ukuran bahwa kita juga akan menjadi sosok dengan keadaan yang sama di episode hidup kita di masa tertentu. Langkah perubahanlah yang akan menentukan episode yang akan terjadi nanti. Kita harus mempunyai waktu untuk segera merespon perubahan-perubahan dalam hidup ini. Merevisi hidup, merupakan perkara besar. Atau mengumpulkan perbekalan-perbekalan yang kita butuhkan untuk mengikuti arus air yang terus mengalir.

Semoga kita selalu merevisi dan merubah sesuatu yang buruk menjadi baik. Termasuk meninggalkan suatu keburukan pada kebaikan, melepas atau membuang suatu kebiasaan buruk. Betapa banyak orang yang cenderung tidak mau memeriksa perjalanannya lalu merevisi hidupnya. Sampai hidupnya perlahan terus digerogoti usia, Betapa banyak diantara kita yang tidak peduli dengan perguliran waktu, dan membiarkan hidupnya berjalan seperti air, tanpa target, tanpa rencana, tanpa tujuan yang jelas. Hingga hidupnya terjebak pada situasi yang tidak memungkinkannya lagi untuk merubah arah.

2 comments:

"Betapa banyak orang yang cenderung tidak mau memeriksa perjalanannya lalu merevisi hidupnya". klimat paling mengena..mgkn aku prnh menjadi bgian dari itu, sekali waktu aku hanya berfikir bagaimana trus berjalan tanpa berfikir bhw perjalanan itu kdg terasa sia2 :)

LOVE!!!!!

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More