Saturday, September 19, 2015

The One

Pertemanan ini dimulai tahun lalu, ketika dia menghubungi saya lewat telpon genggam. Ia menanyakan sebuah kursus yang sedang saya ikuti di Jakarta.

Saya memberikan informasi yang ia butuhkan dan dua minggu kemudian dia sudah berada di satu ruangan kursus yang sama dengan saya. Saya tersenyum dan dia membalasnya. Meski begitu, kami tak banyak bicara. Komputer dengan internet berkecepatan tinggi lebih kami sukai daripada ngobrol dengan teman disamping kiri dan kanan.

Waktu terus berlalu. Kursus berdurasi 5 bulan itu selesai. Saya kembali ke Aceh untuk magang di perusahaan oil and gas dan ia tetap di Jakarta karena sudah diterima menjadi pegawai salah satu perusahaan di sana. Semenjak berpisah, kami malah banyak bicara dan saling bercerita tentang kehidupan setelah kursus. Dia menceritakan betapa berat saat-saat awal ia menjalani hari di Jakarta, betapa sulit makanan enak ia dapati disana, betapa ia rindu pulang ke Aceh untuk sekedar menikmati sate matang dan sebuah dua buah kue nagasari.

Sejak itu kami sering berkomunikasi. Dia orang yang membuat saya tertawa dalam begitu banyak hal, mulai dari tebakan tak penting, lelucon garing, celoteh absurd, diskusi serius, sampai curhat colongan.

Ia orang yang menyenangkan. Pertemanan kami dibangun melalui hal konyol; beberapa cerita kartun masa kecil, juga game yang suka kami mainkan di play station, serta klub bola favorit kami. Saya mentertawakan dia yang menyukai klub Udinese yang kapan tahun sudah redup seiring meredupnya Serie A. Saya baru ber high five dengannya saat ia menyebut Real Madrid sebagai tim yang ia bela di La Liga.

Pertemanan kami terus terjalin. Pembahasan kami mulai memasuki ke tahap mimpi. Kami secara bergantian bertanya dan menjawab apa visi dan misi masing-masing kami, apa yang akan kami lihat dari diri kami lima tahun kedepan. Tak lupa kami rapalkan harapan-harapan yang kami punya. Melalui spontanitasnya, ia menularkan semangatnya pada saya. Melalui idealisme dan pemikiran-pemikirannya, ia menularkan passion pada saya. Melalui pilihan-pilihan yang dibuatnya, ia menularkan cara pandang baru dalam menilik hidup. Ia pernah bilang bahwa dia belajar banyak dari saya, padahal sebenarnya saya lah yang banyak belajar darinya.

Suatu hari, saat saya sedang di Jakarta untuk sebuah alasan dan kami berjanji untuk bertemu. Saya masih ingat, pertemuan singkat itu terjadi di rumah makan Lekko di Grand Indonesia. Pertemuan kembali dengannya benar-benar seperti pertemuan dengan teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak jumpa. Entah dikehidupan mana, kami seperti pernah bersua dan hati kami menyatu. Kehangatan yang nyaman ketika saya sadar bahwa saya tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa bersama dia. Saya bebas menjadi diri saya sendiri, yang masih memilih memakai celana ketimbang rok, yang masih menonton kartun masa kecil, yang mencintai Novak Djokovic hingga rela mendiskon jatah tidur untuk memilih bergadang menyaksikan pertandingannya, yang sering meluangkan waktu untuk main tenis bersama teman, yang masih bodoh dalam hal memasak, yang masih sangat reaktif untuk hal-hal tertentu. Bebas.

Saya tak pernah tahu. Saya tak pernah sadar. Dan entah sejak kapan, rasa itu tumbuh. Mungkin karena ia adalah orang yang menyenangkan, mungkin juga karena ternyata dia dan saya memiliki banyak kesamaan, mungkin juga karena caranya memperlakukan saya, atau mungkin dari kekaguman tentang sosok lelaki idaman versi saya yang mewujud pada dirinya, saya benar-benar tidak tahu. Namun cinta telah memungkinkan segalanya. Dalam pertemanan yang terus tumbuh, jarak hati itu tak lagi ada, meski kami terpisah ruang dan waktu.

Dan dia juga merasakan hal yang sama :)

***

Manusia memulai sebuah pertemuan dengan banyak kebetulan. Dengan berbagai kejadian-kejadian kecil yang mungkin tidak pernah diduga, kemudian membekas di kepala.

Saya pernah mengalaminya. Pertemuan yang tak pernah saya duga ada, tentang sebuah nama yang sering disebut dalam beberapa kesempatan, semuanya... tak saya sadari.

Enam tahun yang lalu, disebuah pernikahan, seorang teman pernah mengenalkan sepupunya kepada saya dengan berbisik sambil mengarahkan matanya ke sosok laki-laki yang sedang melewati kami yang sedang duduk di tempat hadiah. Saya hanya menjawab “O” tanpa melihatnya dengan jelas.

Tahun 2010 yang lalu, saya menghadiri sebuah pesta pernikahan kakak dari sahabat saya. Saat sedang asyik memperhatikan manusia-manusia sekitar, saya melihat lagi laki-laki yang setahun lalu pernah dibisikkan namanya oleh teman saya. Tentu dia tidak mengenal saya, seperti saya yang juga tidak mengenal dia. Tatapan saya hanyalah tatapan tiga detik yang tak berarti apa-apa.

Lima tahun kemudian, ia menjadi laki-laki yang menelpon saya dan menjadi teman kursus saya dan menjadi teman bermain saya dan menjadi teman curhat saya and the rest is... :)

Mengutip kalimat dari film Love, Rosie “sometimes you dont see that the best thing that’s ever happened to you is sitting there, right under your nose.”

***

Lantas, apakah ia “The One” yang saya cari selama ini? Saya termenung cukup lama, I’m lost for words. Namun inilah yang bisa saya katakan:

Suatu hari, kau akan bertemu seseorang yang membuatmu berkata “Ya” tanpa menimbang untung dan rugi.
Suatu hari kau akan bertemu seseorang dan seketika tahu, dialah yang selama ini kau cari. 
Suatu hari kau akan bertemu seseorang yang membuatmu lupa akan luka-lukamu. Suatu hari kau akan bertemu dengannya, dan kembali percaya.
Suatu hari kau akan bertemu seseorang yang tak sempurna dan bersedia mengabaikan segala ketaksempurnaan itu untuk bisa bersamanya.
Suatu hari, kau akan bertemu seseorang yang matanya menunjukkan kepadamu jalan pulang ke rumah.
Suatu hari kau akan bertemu seseorang, dan kau akan tahu. Tanpa meragu.



Saya dan dia menemukan jalan. Tuhan sendiri yang memberikan jalan baiknya. Alhamdulillah. 




NB: Lagu The One dari Kodaline adalah lagu favorit saya. Lagu ini selalu mengingatkan saya pada dia. Video klipnya seperti cermin dari kisah kami yang ternyata sudah pernah sedekat itu di kehidupan yang lalu. Juga tentang janji bahwa sesuatu yang sudah digariskan bersama akan tetap bersama.

11 comments:

Jatuh cinta sama klian berdua #eh
Jatuh cinta pada cerita kalian..semoga Allah menjaga kalian sampai saatnya tiba..me love u wakkkk..

Wak, congrats yaaak :* kiss banyak2 :* :* :*

bude: budeeeeee makasi yaa... amin ya Allah makasi doanya... sayang bude banyak2 *peyuk*

nanda: makaci nanda, dah belepotan lipstik wajah kami krn diciumi banyak2 :))

peyuknya nanti ditagih pas ketemu yaaaa...

selamat, Rin! Happy for you, semoga lancar semuamuanya... :)

bude: insyaallah sblm kami balik ke qtr kita ketemu yaa :*

kakAnn: awwww thank you ya... kak Ann semoga sakses juga <3

tu kan bener.. mata psikolog g meleset. haha

Selamat ya Carin.. semoga dimudahkan langkahnya dan disegerakan. :)

siti: hehehehehehehehe :D :D :D makasi doanya siti insyaallah akan disegerakan dan siti harus hadir ya ;)

Hahaha... boleh, kirimin tiket juga ya.. dari jogka ke qatar. Insyaallah kalo gitu hadir. ;)

siti: acaranya di banda, harus datang yaaaa ;D

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More