Thursday, October 8, 2015

Menunda Impian

Semua ini gara-gara Raline Shah.

Sebut saja begitu.

Saya baru stalking-in 1.942 fotonya dan hasrat berpertualang kembali hinggap di dalam diri saya.

Melihat foto Raline memang seperti mencari-cari kesedihan. Sudah tau akan ngiler malah saya buka juga huhu. Diperparah dengan bunda saya yang juga baru saja pulang jalan-jalan dari Amerika bagian Selatan dan memposting fotonya di Buenos Aires, Lima, Cancun, Cusco, Machu Picchu, dan beberapa daerah lain yang saya tidak hafal namanya, hiks, rasanya saya ingin ke sana juga. Masuk di dalam koper pun tak apa-apa. Aduuuh.

Tahun 2014 yang lalu saya habiskan dengan traveling. Saya suka pergi ke suatu tempat, melakukan perjalanan. Kadang-kadang saya menjumpai hal-hal yang indah di sana. Terkadang juga, saya menemukan diri saya sendiri. Jakarta, Surabaya, Lombok, Malaysia, Singapura dan terakhir Korea Selatan. Puas sekali rasanya. Di penghujung tahun tak lupa saya sampaikan harap agar tahun depan bisa traveling ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi.

Bulan Mei kemarin saya “pulang” ke Doha. Niat saya sih mencari kerja, mengumpulkan uang, dan, ehm, karena sudah sampai di sana, eurotrip pun akan semakin terjangkau. Membayangkannya saja saya sudah senang, hehe.

Resident visa bikin saya ketar ketir dan gemas sendiri. Pembuatannya hampir 2 bulan! Hampir 2 bulan juga paspor tidak berada ditangan saya. Padahal ayah sudah berencana untuk menghabiskan libur lebaran idul fitri di Dubai, itinerary pun sudah dibuat, namun karena keterlambatan proses resident visa tadi, jalan-jalan ke Dubai hanya tinggal kenangan.

Korban terakhir adalah jalan-jalan ke Inggris yang juga harus dibatalkan. Huhu. (Kisahnya ada di tumblr saya. Terlalu sedih kalau saya ceritakan di sini :D)

Entahlah, saya suka sekali membuat itinerary perjalanan dan terkadang saya lebih excited terhadap perencanaan itu sendiri dibandingan dengan tujuannya. Saya tahu, seberapa semangatnya saya menentukan tujuan liburan dan mempersiapkan itinerary dengan cermat, terkadang, liburan itu tidak akan terwujud. Meski saya lebih suka membungkam mulut rapat-rapat dan tidak membicarakannya. Hidup memang tidak pernah menutup peluang terhadap berbagai mujizat dan keajaiban, namun, jika menilik realitas, saya sadar, saya takkan menjejakkan kaki ke sana. Setidaknya, tidak tahun ini.

Saya memilih realistis dengan merangkul kenyataan bahwa waktunya sudah tak sempat lagi dan tabungan saya pun tidak akan cukup untuk membawa saya ke sana.

Lantas, kenapa saya repot-repot merencanakan sebuah perjalanan yang tidak akan terwujud?

Karena saya masih ingin punya mimpi. Karena impian memberi semangat pada diri yang mulai jenuh menghadapi dunia. Karena impian memberi bahan bakar untuk menyalakan api di hati. Untuk terus melangkah. Untuk terus berjalan.

Baiklah, tidak apa-apa. Bukankah memperkaya hidup itu bisa di mana saja?

Tidak apa-apa. Semuanya tergantung perspektif dan cara saya menyikapi realita, setiap hari, setiap detik.

Tidak apa-apa.

...
...

Tapi perih itu tetap ada. Aaaargggh.


4 comments:

Taun ini jalan2 kepenghulu dulu lah wakkk..

hahaha iya nih bude *brb siapin berkas* :p :p :p

Kenapa ga jadi ke UK nya? 😭😭😭

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More