Tuesday, July 25, 2017

Harapan Baru

Juli ini, usia saya genap 27 tahun. Banyak hal yang terjadi dalam perjalanan menuju usia ini, yang paling utama adalah menjadi seorang istri dan insyaallah calon ibu. Kehidupan pernikahan saya sudah berjalan 1 tahun lebih. Segala rasa yang ada di dalamnya sudah saya cecap; bahagia, kecewa, marah, sakit, stress, sedih, semua silih berganti memainkan perannya.

Katanya, awal menikah adalah fase di mana pasangan suami istri sedang bahagia-bahagianya. Saya setuju meski tidak seratus persen. Awal pernikahan bagi saya dan suami adalah masa-masa terberat dalam hidup kami. Ini adalah fase penyatuan keluarga dengan latar belakang yang sangat berbeda, baik secara agama, pendidikan, finansial, pergaulan, visi misi, budaya, keturunan, kondisi, dan lain-lain. Sama seperti saya dan suami, kami dua orang berbeda yang disatukan dalam pernikahan. Perjuangan kami mendalami karakter juga penuh up and down. Namun seiring waktu, saya jadi tau apa yang membuatnya senang, apa makanan kesukaannya, bagaimana ekspresi marahnya, cara dia me-manage rasa kecewa, apa yang ia bisa dan belum bisa, dan lain-lain.

Setiap hal yang terjadi insyaallah akan kami ambil sebagai sumber ibrah dan pembelajaran. Setahun dan sampai selamanya saya dan suami masih belajar dan akan terus belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Setahun rasa nano-nano. Setahun yang luar biasa bersama orang yang saya cintai.

Baby K saat masih berusia 12 minggu
Segala cerita dan pengalaman hidup ini, jika saya mencari kata untuk menjahit keseluruhannya, maka itu adalah harapan. Harapan, optimisme dan kesinambungan adalah isu utama dibalik pelajaran hidup yang sudah saya dan suami lewati. Sebentar lagi saya akan menjadi seorang ibu, maka pelajaran selanjutnya adalah bagaimana mendidik anak saya kelak. Tak hentinya saya membekali diri dengan membaca artikel, buku, literatur, dan sumber informasi lainnya mengenai tata cara mengasuh buah hati. Segelintir orang mengatakan tak perlu begitu repot membaca ini itu, toh menjadi ibu adalah sebuah naluri. Teori akan dikalahkan oleh pengalaman. Ah, memang benar. Saya setuju. Tapi saya juga percaya, naluri akan semakin tajam bila sebelumnya kepala sudah penuh dengan ilmu.


Fase pernikahan kami sedang menuju ke jenjang berikutnya. Saya dan suami harus mempersiapkan diri; lahir dan batin, dengan sebaik-baiknya, demi harapan besar yang mewujud seorang anak. Pintaku sederhana, semoga kelak ia menjadi anak yang sholeh/sholeha. Itu saja.

See you soon, Baby K


0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More