Thursday, October 8, 2015

Menunda Impian

Semua ini gara-gara Raline Shah.

Sebut saja begitu.

Saya baru stalking-in 1.942 fotonya dan hasrat berpertualang kembali hinggap di dalam diri saya.

Melihat foto Raline memang seperti mencari-cari kesedihan. Sudah tau akan ngiler malah saya buka juga huhu. Diperparah dengan bunda saya yang juga baru saja pulang jalan-jalan dari Amerika bagian Selatan dan memposting fotonya di Buenos Aires, Lima, Cancun, Cusco, Machu Picchu, dan beberapa daerah lain yang saya tidak hafal namanya, hiks, rasanya saya ingin ke sana juga. Masuk di dalam koper pun tak apa-apa. Aduuuh.

Tahun 2014 yang lalu saya habiskan dengan traveling. Saya suka pergi ke suatu tempat, melakukan perjalanan. Kadang-kadang saya menjumpai hal-hal yang indah di sana. Terkadang juga, saya menemukan diri saya sendiri. Jakarta, Surabaya, Lombok, Malaysia, Singapura dan terakhir Korea Selatan. Puas sekali rasanya. Di penghujung tahun tak lupa saya sampaikan harap agar tahun depan bisa traveling ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi.

Bulan Mei kemarin saya “pulang” ke Doha. Niat saya sih mencari kerja, mengumpulkan uang, dan, ehm, karena sudah sampai di sana, eurotrip pun akan semakin terjangkau. Membayangkannya saja saya sudah senang, hehe.

Resident visa bikin saya ketar ketir dan gemas sendiri. Pembuatannya hampir 2 bulan! Hampir 2 bulan juga paspor tidak berada ditangan saya. Padahal ayah sudah berencana untuk menghabiskan libur lebaran idul fitri di Dubai, itinerary pun sudah dibuat, namun karena keterlambatan proses resident visa tadi, jalan-jalan ke Dubai hanya tinggal kenangan.

Korban terakhir adalah jalan-jalan ke Inggris yang juga harus dibatalkan. Huhu. (Kisahnya ada di tumblr saya. Terlalu sedih kalau saya ceritakan di sini :D)

Entahlah, saya suka sekali membuat itinerary perjalanan dan terkadang saya lebih excited terhadap perencanaan itu sendiri dibandingan dengan tujuannya. Saya tahu, seberapa semangatnya saya menentukan tujuan liburan dan mempersiapkan itinerary dengan cermat, terkadang, liburan itu tidak akan terwujud. Meski saya lebih suka membungkam mulut rapat-rapat dan tidak membicarakannya. Hidup memang tidak pernah menutup peluang terhadap berbagai mujizat dan keajaiban, namun, jika menilik realitas, saya sadar, saya takkan menjejakkan kaki ke sana. Setidaknya, tidak tahun ini.

Saya memilih realistis dengan merangkul kenyataan bahwa waktunya sudah tak sempat lagi dan tabungan saya pun tidak akan cukup untuk membawa saya ke sana.

Lantas, kenapa saya repot-repot merencanakan sebuah perjalanan yang tidak akan terwujud?

Karena saya masih ingin punya mimpi. Karena impian memberi semangat pada diri yang mulai jenuh menghadapi dunia. Karena impian memberi bahan bakar untuk menyalakan api di hati. Untuk terus melangkah. Untuk terus berjalan.

Baiklah, tidak apa-apa. Bukankah memperkaya hidup itu bisa di mana saja?

Tidak apa-apa. Semuanya tergantung perspektif dan cara saya menyikapi realita, setiap hari, setiap detik.

Tidak apa-apa.

...
...

Tapi perih itu tetap ada. Aaaargggh.


Saturday, September 19, 2015

The One

Pertemanan ini dimulai tahun lalu, ketika dia menghubungi saya lewat telpon genggam. Ia menanyakan sebuah kursus yang sedang saya ikuti di Jakarta.

Saya memberikan informasi yang ia butuhkan dan dua minggu kemudian dia sudah berada di satu ruangan kursus yang sama dengan saya. Saya tersenyum dan dia membalasnya. Meski begitu, kami tak banyak bicara. Komputer dengan internet berkecepatan tinggi lebih kami sukai daripada ngobrol dengan teman disamping kiri dan kanan.

Waktu terus berlalu. Kursus berdurasi 5 bulan itu selesai. Saya kembali ke Aceh untuk magang di perusahaan oil and gas dan ia tetap di Jakarta karena sudah diterima menjadi pegawai salah satu perusahaan di sana. Semenjak berpisah, kami malah banyak bicara dan saling bercerita tentang kehidupan setelah kursus. Dia menceritakan betapa berat saat-saat awal ia menjalani hari di Jakarta, betapa sulit makanan enak ia dapati disana, betapa ia rindu pulang ke Aceh untuk sekedar menikmati sate matang dan sebuah dua buah kue nagasari.

Sejak itu kami sering berkomunikasi. Dia orang yang membuat saya tertawa dalam begitu banyak hal, mulai dari tebakan tak penting, lelucon garing, celoteh absurd, diskusi serius, sampai curhat colongan.

Ia orang yang menyenangkan. Pertemanan kami dibangun melalui hal konyol; beberapa cerita kartun masa kecil, juga game yang suka kami mainkan di play station, serta klub bola favorit kami. Saya mentertawakan dia yang menyukai klub Udinese yang kapan tahun sudah redup seiring meredupnya Serie A. Saya baru ber high five dengannya saat ia menyebut Real Madrid sebagai tim yang ia bela di La Liga.

Pertemanan kami terus terjalin. Pembahasan kami mulai memasuki ke tahap mimpi. Kami secara bergantian bertanya dan menjawab apa visi dan misi masing-masing kami, apa yang akan kami lihat dari diri kami lima tahun kedepan. Tak lupa kami rapalkan harapan-harapan yang kami punya. Melalui spontanitasnya, ia menularkan semangatnya pada saya. Melalui idealisme dan pemikiran-pemikirannya, ia menularkan passion pada saya. Melalui pilihan-pilihan yang dibuatnya, ia menularkan cara pandang baru dalam menilik hidup. Ia pernah bilang bahwa dia belajar banyak dari saya, padahal sebenarnya saya lah yang banyak belajar darinya.

Suatu hari, saat saya sedang di Jakarta untuk sebuah alasan dan kami berjanji untuk bertemu. Saya masih ingat, pertemuan singkat itu terjadi di rumah makan Lekko di Grand Indonesia. Pertemuan kembali dengannya benar-benar seperti pertemuan dengan teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak jumpa. Entah dikehidupan mana, kami seperti pernah bersua dan hati kami menyatu. Kehangatan yang nyaman ketika saya sadar bahwa saya tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa bersama dia. Saya bebas menjadi diri saya sendiri, yang masih memilih memakai celana ketimbang rok, yang masih menonton kartun masa kecil, yang mencintai Novak Djokovic hingga rela mendiskon jatah tidur untuk memilih bergadang menyaksikan pertandingannya, yang sering meluangkan waktu untuk main tenis bersama teman, yang masih bodoh dalam hal memasak, yang masih sangat reaktif untuk hal-hal tertentu. Bebas.

Saya tak pernah tahu. Saya tak pernah sadar. Dan entah sejak kapan, rasa itu tumbuh. Mungkin karena ia adalah orang yang menyenangkan, mungkin juga karena ternyata dia dan saya memiliki banyak kesamaan, mungkin juga karena caranya memperlakukan saya, atau mungkin dari kekaguman tentang sosok lelaki idaman versi saya yang mewujud pada dirinya, saya benar-benar tidak tahu. Namun cinta telah memungkinkan segalanya. Dalam pertemanan yang terus tumbuh, jarak hati itu tak lagi ada, meski kami terpisah ruang dan waktu.

Dan dia juga merasakan hal yang sama :)

***

Manusia memulai sebuah pertemuan dengan banyak kebetulan. Dengan berbagai kejadian-kejadian kecil yang mungkin tidak pernah diduga, kemudian membekas di kepala.

Saya pernah mengalaminya. Pertemuan yang tak pernah saya duga ada, tentang sebuah nama yang sering disebut dalam beberapa kesempatan, semuanya... tak saya sadari.

Enam tahun yang lalu, disebuah pernikahan, seorang teman pernah mengenalkan sepupunya kepada saya dengan berbisik sambil mengarahkan matanya ke sosok laki-laki yang sedang melewati kami yang sedang duduk di tempat hadiah. Saya hanya menjawab “O” tanpa melihatnya dengan jelas.

Tahun 2010 yang lalu, saya menghadiri sebuah pesta pernikahan kakak dari sahabat saya. Saat sedang asyik memperhatikan manusia-manusia sekitar, saya melihat lagi laki-laki yang setahun lalu pernah dibisikkan namanya oleh teman saya. Tentu dia tidak mengenal saya, seperti saya yang juga tidak mengenal dia. Tatapan saya hanyalah tatapan tiga detik yang tak berarti apa-apa.

Lima tahun kemudian, ia menjadi laki-laki yang menelpon saya dan menjadi teman kursus saya dan menjadi teman bermain saya dan menjadi teman curhat saya and the rest is... :)

Mengutip kalimat dari film Love, Rosie “sometimes you dont see that the best thing that’s ever happened to you is sitting there, right under your nose.”

***

Lantas, apakah ia “The One” yang saya cari selama ini? Saya termenung cukup lama, I’m lost for words. Namun inilah yang bisa saya katakan:

Suatu hari, kau akan bertemu seseorang yang membuatmu berkata “Ya” tanpa menimbang untung dan rugi.
Suatu hari kau akan bertemu seseorang dan seketika tahu, dialah yang selama ini kau cari. 
Suatu hari kau akan bertemu seseorang yang membuatmu lupa akan luka-lukamu. Suatu hari kau akan bertemu dengannya, dan kembali percaya.
Suatu hari kau akan bertemu seseorang yang tak sempurna dan bersedia mengabaikan segala ketaksempurnaan itu untuk bisa bersamanya.
Suatu hari, kau akan bertemu seseorang yang matanya menunjukkan kepadamu jalan pulang ke rumah.
Suatu hari kau akan bertemu seseorang, dan kau akan tahu. Tanpa meragu.



Saya dan dia menemukan jalan. Tuhan sendiri yang memberikan jalan baiknya. Alhamdulillah. 




NB: Lagu The One dari Kodaline adalah lagu favorit saya. Lagu ini selalu mengingatkan saya pada dia. Video klipnya seperti cermin dari kisah kami yang ternyata sudah pernah sedekat itu di kehidupan yang lalu. Juga tentang janji bahwa sesuatu yang sudah digariskan bersama akan tetap bersama.

Monday, June 29, 2015

5 Hari Sebelum Tanggal 5

Entri ini saya tulis jam satu pagi, sambil mendengarkan Gravity-nya Coldplay yang sedang dalam mode on repeat sejak sejam yang lalu. Sebenarnya saya sudah berusaha tidur tetapi mata ini tidak mau terpejam. Entah kenapa, pagi ini saya merasa sunyi dan hampa. Pikiran saya pun mendadak ikut meresapi kesunyian ini.

Alangkah banyak yang ingin saya tuliskan di halaman ini. Berkali-kali saya menerima pertanyaan, “Kapan diisi lagi blog-nya?”, “Kok sekarang gak pernah posting lagi?”, dan sebagainya. Berkali-kali berbagai pemikiran singgah di otak. Berkali-kali pula saya meniatkan hati untuk menulis barang satu-dua halaman. Toh akhirnya semua niat cuma mengendap.

Juni nyaris berakhir. Bulan ketujuh akan segera saya jelang. Rasanya baru kemarin tahun 2014 berlalu. Kadang benak tergoda untuk melontarkan pertanyaan, apa saja yang sudah saya raih selama enam bulan ini? Apa saja pengalaman yang berhasil saya kumpulkan? Pembelajaran apa yang sudah saya petik? Berapa banyak teman yang saya punya? Apakah kepindahan saya ke Qatar sudah tepat?

***

Empat jam yang lalu, saya berada di ruang tunggu salah satu praktik dokter gigi di daerah Al Khor. Sembari menunggu giliran dipanggil, saya membaca sebuah majalah yang terletak di atas kursi di seberang saya. Saya langsung membuka sembarang halaman dan kata-kata pertama yang saya baca adalah “Life keeps on moving, you must change and move as life does”.

Saya membaca tulisan tersebut dua kali. Kemudian saya terdiam. Saat itu batin saya mengambil alih. Dengan ketenangan yang tak pernah saya duga ada. Dalam kesunyian yang mendamaikan. Dalam keheningan yang menyejukkan. Saya tersenyum.

***

Sudah sebulan sejak kepindahan saya, saya belum merasa settle disini. Proses mendapatkan resident visa terlalu memakan waktu. Saya pun tak bisa kemana-mana karena belum boleh mengikuti ujian mendapatkan license. Hidup saya hanya bergantung pada orang tua dan beberapa teman yang kerap datang menjemput untuk sekedar jalan-jalan. Hal ini membuat saya tidak sabar dalam proses dan sempat meragu: apakah keputusan saya pulang kesini adalah benar?

Namun tulisan random yang saya baca di ruang tunggu sebuah praktik dokter gigi tadi ternyata membuat saya berpikir ulang.

Saya sudah berkomitmen belajar untuk tidak terlalu terikat dengan satu tempat dan orang untuk kemudian akhirnya saya jadi bisa merindukan tempat dan orang tersebut, dan buat saya rindu adalah kompas petunjuk bahwa suatu hari nanti saya pasti kembali lagi untuk mengunjungi mereka. Saya diingatkan lagi ketika sibuk mengurusi pindahan, saya menyadari satu hal, semakin saya bertumbuh, semakin saya malas berpindah. Diam di zona aman itu adalah hal yang paling  menyenangkan. Semakin pula saya kurang peka dengan banyak hal karena “terbiasa”. Terbiasa itu berpeluang menumpulkan. Dan itulah alasan saya memutuskan untuk pindah.

Lagi-lagi, dengan cara yang ajaib, Sang Pencipta menunjukkan kebesaran-Nya. Memberi satu lagi peneguhan dan kekuatan untuk hati kecil yang kerap meragu ini. Menciptakan sinkronisitas untuk meyakinkan saya bahwa jalan yang sedang saya tempuh adalah jalan yang benar – setidaknya untuk saat ini. Mengalihkan fokus saya dari berbagai hal yang menyita perhatian dan terkadang begitu menjemukan, untuk sekejap menyapa dan memberitahu bahwa saya tak pernah sendirian dalam menapaki perjalanan panjang ini.

Lima hari sebelum tanggal lima... dan untuk seterusnya. Apapun yang terjadi di depan sana, apapun yang menunggu saya kelak, apapun yang akan saya alami dalam perjalanan dan evolusi kehidupan yang terus bergulir ini; sesal atau senang, gembira atau sedih, kebanggaan atau kekecewaan, hanya satu harapan saya: semoga saya bisa senantiasa mengenangnya dengan senyuman.

:-)

Wednesday, June 25, 2014

Lombok: I Called It Paradise

Terbang ke Lombok

Saya berangkat dari Bandara Soeta menuju Bandara Internasional Lombok (Praya) dengan waktu penerbangan 2 jam. Sesampainya di Praya, saya langsung dijemput pihak hotel dan mobil pun membawa saya ke penginapan di daerah Pantai Senggigi. Lelah selama perjalanan pun hilang ketika melihat pantai saat saya membuka beranda. Karena sudah petang, jalan-jalan baru bisa dilakukan esok hari. Saya hanya keluar untuk makan malam di pinggir pantai sambil melihat sunset.

lauuuuut
di depan kamar saya

Senggigi Beach Hotel
Tur Budaya-Kuta-Selong Belanak

Jalan-jalan pertama saya adalah ke tempat wisata kerajinan khas Lombok. Setiap waktu banyak sekali wisatawan asing dan domestik yang sengaja datang untuk melihat langsung proses tenun. Tidak hanya sebatas membeli dan melihat, pengunjung juga bisa ikut belajar membuat kain tenun tersebut.



Perjalanan dilanjutkan ke Desa Sade, yang merupakan desa suku sasak asli. Di Desa Sade saya masih bisa menyaksikan bentuk rumah beratap ijuk dengan tradisi masyarakat setempat yang masih asli. Meski letak desa tersebut tepat dipinggir jalan raya yang beraspal dan banyak dilalui kendaraan, Sade tetap bertahan sebagai desa asli suku Sasak. Modernisasi yang menyerbu Pulau Lombok sepertinya tak kuasa mempengaruhi desa tersebut :D

rumah asli suku sasak

Setelah dari desa tersebut, saya rehat sebentar untuk makan dan shalat. Perjalanan pun dilanjutkan ke Lombok Tengah, ke Pantai Kuta. Bukan, bukan Kuta yang di Bali. Tetapi pantai indah di Lombok yang juga bernama Kuta. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 WITA dan masih ada pantai yang hendak saya kunjungi, akhirnya Pantai Kuta hanya bisa saya pandangi dari Café Ashtari sambil minum kelapa muda seharga 35.000 :))

Ashtari Cafe & Lounge
pantai kuta dari kejauhan
banyak bule juga :D

Setelah mengambil cukup banyak foto, saya bertolak ke Lombok Tengah untuk melihat Pantai Selong Belanak yang unik. Kenapa saya bilang unik? Karena jika pantai dengan pasir putih yang halus ini menyatu dengan air laut, pasir tersebut akan menjadi keras. Tidak heran bila melihat beberapa kendaraan bermotor bisa kebut-kebutan di bibir pantainya. Selain pasirnya yang bisa mengeras, pantai ini juga memiliki dua ombak. Di sisi kiri menyuguhkan ombak yang tenang dan di sisi kanannya menyuguhkan ombak yang agak tinggi. Oleh karena itu, di sisi kanan ini kerap dijadikan sebagai spot surfing.

pantai selong belanak



view di perjalanan ke pantai selong belanak

Tak terasa, waktu sudah petang. Meski sebenarnya tubuh saya belum lelah dan ingin terus menjelajah, saya harus kembali ke hotel untuk beristirahat. Sunset saya ambil di daerah Senggingi dengan penampakan Gunung Agung yang terletak di Bali.



Gili Meno – Gili Trawangan

Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan adalah tiga gugusan pulau kecil yang terletak di utara Pulau Lombok.  Karena keterbatasan waktu (petang nanti saya terbang ke Bali) saya hanya mengunjungi Gili Meno dan Gili Trawangan saja. Saya berangkat dari pelabuhan Senggigi yang saya capai hanya dengan 10 menit berjalan kaki.
pantai senggigi
 Sesampainya di pelabuhan, tour guide sudah menunggu dan tak lama saya pun sudah diatas boat dengan hati yang berdebar-debar. Bagaimana tidak, sudah sejak lama saya memimpikan suatu hari dapat menginjakkan kaki ke Gili, melihat kecantikan primadona Lombok ini dengan mata saya sendiri. Dan hari ini impian itu terwujud. 

menuju gili!
Setelah 45 menit perjalanan, akhirnya saya sampai di Gili Meno. Gili Meno memiliki luas daratan paling kecil diantara Gili lainnya. Meski kecil, Gili Meno menyimpan keindahan yang luar biasa. Airnya jernih sekali. Disini kita juga bisa menjumpai penyu yang sedang berenang bebas. 

gili meno
crystal clear water
:D
Setelah puas di Gili Meno, saya kembali naik boat untuk menyebrang selama 15 menit ke Gili Trawangan. Tak seperti di Gili Meno yang sepi, Gili Trawangan begitu ramai pengunjung dan saya merasa seperti turis di negeri sendiri karena disana hampir 80% bule semua. Saya sampai kesana bertepatan dengan berkumandangnya adzan zuhur. Keadaannya timpang sekali. Suara adzan dan bule berbikini. Tour guide seperti bisa membaca pikiran saya dan berkomentar bahwa bule-bule ini awalnya melarang suara adzan dengan volume yang besar. Tetapi ini Lombok, kota seribu masjid yang akan terus mengumandangkan adzan di 5 waktu. Jika mereka tidak senang, mereka yang harus keluar dari Lombok.
gili trawangan!


Ohya, Gili Trawangan (maupun di Gili Meno dan Gili Air) merupakan tempat yang tidak memperbolehkan kendaraan bermotor untuk masuk kesana. Karena itulah, Gili Islands ini tidak ada yang namanya polusi udara seperti asap kendaraan dan semacamnya, benar-benar bisa menyejukkan paru-paru bagi yang biasa tinggal di perkotaan yang penuh polusi.

Untuk berkeliling di Gili Trawangan ada transportasi umum yang disebut cidomo (dokar atau andong) yang ditenagai oleh seekor kuda dan duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja :D. Selain itu, bisa juga menyewa sepeda untuk berkeliling dengan harga yang cukup bersahabat. 
pejalan kaki

naik cidomo :D

Tidak terasa, hari sudah menjelang sore dan saya harus pulang ke hotel untuk terbang ke destinasi selanjutnya: Bali.

My promise to myself, since I fell in love, I wanna do it again and again. Next trip will be as breath taking and remind me how small I am, how great is He and how blessed we are to have this.

:)

Thursday, June 12, 2014

Mentertawai Diri Sendiri

Tertawa. Tertawa adalah salah satu pertanda bahwa seseorang masih bisa membedakan antara kepedihan dengan kesenangan. Tertawa adalah pertanda bahwa seseorang masih mampu membedakan mana dagelan dan mana keseriusan. Tertawa menjadi bukti bahwa seseorang sedang berduka atau bersuka. Tertawa merupakan isyarat bahwa seseorang masih punya rasa.

Waktu masih menjadi anak kuliahan, saya pernah tempus saat sedang puasa sunnah hanya karena semangkuk soto di kantin (anak ekonomi pasti tau betapa lezatnya soto tersebut). Diwaktu yang lain saya juga pernah menitip absen saat sudah berikrar semester ini tidak akan bolos kuliah lagi. Atau tugas yang masih saja saya pinjam untuk saya fotokopi walau sudah bertekad akan dikerjakan sendiri.

Dan saya tertawa. Mentertawakan diri sendiri karena janji-janji yang pernah saya ikrarkan. Sebab disana ada kelucuan, kebodohan dan inkonsistensi.

Janji kepada diri sendiri adalah janji yang unik. Tak ada risiko dan konsekuensi. Karena itulah barangkali saya terlalu mudah melakukannya dan terlalu mudah pula melupakannya. Selalu, dan terus berulang. Layak rasanya menertawakan diri karena kelakuan itu, seperti anak kecil yang tak pernah mengerti dan tak mau tahu akibat dari ucapannya.

Janji kepada diri sendiri tentang rencana, target atau obsesi nyaris tak ada hukum dan sanksi sebab memang tidak ada yang mengawasi, tak ada yang menghukum. Kita bebas berjanji apa dan kapan saja, dan bebas pula melanggarnya. Kita merdeka untuk menyusun rencana apapun, dan merdeka pula untuk tidak melakukannya. Kita mungkin pernah berjanji pada diri sendiri untuk bekerja keras, misalnya, agar dua atau tiga tahun kedepan kita bisa punya usaha sendiri, atau melanjutkan kuliah dan sebagainya. Tapi janji itu kemudian tak kita penuhi, dan kita tak pernah merasa berdosa karena memang tak ada yang mengawasi dan tak ada yang memarahi.

Perjalanan hidup seseorang di suatu waktu, tidaklah menjadi ukuran apapun bahwa ia akan menjadi seperti apa di masa yang lain. Sepotong episode hidup kita di satu waktu, tak pernah pula menjadi ukuran bahwa kita juga akan menjadi sosok dengan keadaan yang sama di episode hidup kita di masa tertentu. Langkah perubahanlah yang akan menentukan episode yang akan terjadi nanti. Kita harus mempunyai waktu untuk segera merespon perubahan-perubahan dalam hidup ini. Merevisi hidup, merupakan perkara besar. Atau mengumpulkan perbekalan-perbekalan yang kita butuhkan untuk mengikuti arus air yang terus mengalir.

Semoga kita selalu merevisi dan merubah sesuatu yang buruk menjadi baik. Termasuk meninggalkan suatu keburukan pada kebaikan, melepas atau membuang suatu kebiasaan buruk. Betapa banyak orang yang cenderung tidak mau memeriksa perjalanannya lalu merevisi hidupnya. Sampai hidupnya perlahan terus digerogoti usia, Betapa banyak diantara kita yang tidak peduli dengan perguliran waktu, dan membiarkan hidupnya berjalan seperti air, tanpa target, tanpa rencana, tanpa tujuan yang jelas. Hingga hidupnya terjebak pada situasi yang tidak memungkinkannya lagi untuk merubah arah.

Monday, June 9, 2014

Pernikahan Itu

Pembicaraan yang terjadi beberapa waktu yang lalu dengan beberapa teman yang sudah menikah sangat menarik untuk diceritakan kembali disini. Sebagai orang yang sudah memasuki fase menikah, tak ada salahnya saya bertanya beberapa hal kepada mereka. Pertanyaan saya cukup standar,
“menikah itu apa?” dan “bagaimana rasanya menjadi seorang istri?”
“bagaimana kalau kita masuk langsung ke bagian pahitnya?” salah satu dari mereka bertanya kembali. Saya heran, tak mengira akan mendapat respon seperti itu.

Pernikahan adalah tauhid, kata mereka. Bayangkan, setiap hari harus bagun pagi membuatkan sarapan untuk suami disempitnya waktu ketika istri juga harus pergi bekerja, itu jelas bukan perkara mudah. Lebih dari hidangan, masakkan adalah bahasa perasaan. Ada rasa di balik rasa. Terlebih lagi masakan penuh cinta tersebut ternyata tidak disentuh sedikitpun oleh suami yang terkadang lebih memilih untuk makan diluar. Pasti akan ada weuh dihati. Tapi yakinlah, Allah mencatat semua usaha itu.

Pernikahan adalah mencintai, katanya lagi. Akhir pekan biasanya dihabiskan dengan leyeh-leyeh tapi sekarang sudah harus menyetrika pakaian sendiri dan pakaian suami. Lelah? Pasti. Tapi karena cinta, lenyaplah rasa lelah itu. Yang tinggal hanya rasa bahagia bisa melakukan sesuatu untuk orang yang dicintai.

Pernikahan adalah penerimaan. Akan ada saatnya konflik muncul ke permukaan. Mungkin kita bertengkar. Tapi takkan lama. Karena kita mencintai pasangan dan memaklumi kelemahannya, akan mudah bagi kita untuk memaafkan kesalahan-kesalahannya.

Pernikahan adalah seperti main rumah-rumahan, sama-sama tinggal di ruangan yang kecil, belajar untuk hidup seperti yang orang tua kita lakukan dulu.

Pernikahan adalah tentang loncatan kebahagiaan menuju kebahagiaan berikutnya.

Dan untuk mencapai itu, semua hal harus dilakukan dengan kooperatif. Jadi kenapa kita harus memilih pasangan yang tepat untuk menikah? Agar semua keputusan bisa diambil melalui obrolan yang menyenangkan :)

Di dunia ini, selalu akan ada yang berubah, selalu akan ada yang membuat resah, selalu akan ada hal yang susah, tapi bukankah itu sebenarnya esensi hidup? Nikmati segala fase dan yang paling penting untuk senantiasa bersyukur atas segala kenikmatan yang sudah diberikan oleh Allah.

***

Hidup pada akhirnya adalah pandang memandang di antara kita, pantul memantul, untuk kita saling bercermin. Laki-laki baik untuk wanita baik. Itu janji Allah. Dan semoga kesadaran bertauhid selalu ada didalam diri kita

Sunday, May 18, 2014

Penting Tidak Penting

Pertengahan Februari yang lalu saya gembira bukan main setelah membaca official statement di facebook Taylor Swift yang mengatakan bahwa RED Tour akan sampai ke Asia Tenggara. Taylor akan konser di Indonesia bulan Juni ini! Saya sebagai penggemar lagu-lagunya mendadak sibuk mencari tahu informasi seperti siapa yang bertindak sebagai event organizer, berapa harga tiketnya dan dimana konser akan digelar. Saya juga tidak lupa menelpon orang tua, merayu mereka untuk menambah uang saku saya bulan depan untuk dapat membeli tiket konser kelas gold. Saya semakin gembira karena orang tua saya membolehkannya. Awal Maret, uang sudah dalam genggaman, hanya tinggal membeli tiketnya saja.

Beberapa waktu kemudian, entah kenapa eforia itu usai. Saya tak begitu excited lagi dengan konsernya. Masih banyak hal yang bermanfaat yang bisa saya lakukan dan duduk menonton konser bukan salah satunya.

***

Waktu berlalu. Perjalanan hidup selalu membawa perubahan. Selalu mengisyaratkan pergeseran. Sebaik-baiknya berubah adalah yang membawa nilai dan makna. Dan sebaik-baiknya kita adalah yang membekali diri untuk menjadi lebih baik setiap harinya. Seiring usia, banyak hal penting dikehidupan masa lalu menjadi tak penting lagi untuk dilakukan sekarang. Entah kenapa, saya merenungi kembali rencana saya untuk menonton konser Taylor Swift. Saya akan menghabiskan banyak rupiah hanya untuk dua sampai tiga jam yang tak penting. Sampai akhir April kemarin tiket belum saya beli dan akhirnya saya memutuskan untuk tidak pergi.

Harapan dan rencana saya revisi total seiring perjalanan waktu dan bertambahnya pemahaman. Tentang yang dulu pernah saya rasa penting namun hari ini tidak lagi penting, itu hanyalah mozaik-mozaik yang telah terevisi tanpa saya sadari. Semoga kita bisa memastikan bahwa setiap hari ada langkah baru yang kita ayunkan untuk terus berada dijalur yang benar. Mengutip kata-kata Syaikh Nabiha Jabir “Hiduplah tanpa rasa sedih dengan hal yang telah lalu. Hiduplah dengan cita-cita bersama hal-hal yang baru. Dan hiduplah lebih dewasa dari masa lalu yang tidak berguna”.

Tapi saya tetap suka Taylor Swift :p

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More