Tuesday, December 15, 2015

I've Lost The Spark

Squad
Saya pengin sedikit cerita tentang acara Heya Arabian Fashion Exhibiton (HAFE) pertengahan November kemarin. Eh, udah basi ya? Yaaah... yauda deh... saya tetap cerita :p

HAFE adalah pergelaran fashion rutin yang sudah diadakan dari beberapa tahun yang lalu di Qatar. Tahun ini, edisi ke delapan, Heya untuk pertama kalinya mengundang negara-negara non-Arab untuk turut berpartisipasi dan Indonesia adalah salah satunya. Tiga minggu sebelum acara dimulai, saya diajak menjadi panitia. Awalnya saya ragu, karena saya tidak tahu menahu tentang fashion. Tapi karena kalimat pesuasif “yakin nggak mau? Ada Dian Pelangi loh. Kapan lagi bisa jumpa, selfie dan ngobrol bareng dia?” akhirnya saya putuskan untuk ambil bagian dalam acara itu.

Saya sih ngefans sama orang yang positif seperti Dian. Seorang trendsetter. Designer. Influencer. Salah satu sosok terlama yang saya ikuti di Instagram. Uda tiga tahunan lebih ngefollow Dian karena suka sekali dengan konten-kontennya. Not to mention sebagian orang merasa dia gak syar’i ya. Kita gak boleh kebanyakan nyinyir. Lihatlah sesuatu dari sisi positifnya, seberapa banyak orang yang memutuskan mulai memakai hijab setelah terinspirasi Dian? Dan menurut saya menjadi syar’i membutuhkan proses, dan proses itu diawali dari keikhlasan memakai hijab.

Ketika saya bertemu langsung dengan Dian di venue acara, jangan ditanya bagaimana rasanya. Telapak tangan berkeringat dingin dan saya nggak bisa ngobrol secara rileks. First impression saya terhadap Dian: orangnya baik dan ramah. Sekali.

Hari berikutnya, pengunjung membludak. Selain karena weekend, Dian Pelangi juga menyelenggarakan fashion show. Betapa beruntungnya saya menyaksikan ini secara langsung. Betapa bangganya melihat karya anak bangsa dipuji dan dihargai oleh orang asing. Ketika nama Dian dipanggil ke depan, semua orang bersorak-sorak memberi applause. Di situlah saya menyadari bahwa Indonesia itu keren.  Dan dengan bangganya saya berani bilang, hanya Indonesian Fashion Show yang mendapatkan sambutan paling meriah, kursi penuh terisi hingga penonton yang tidak kebagian rela berdiri demi nasionalisme, demi menghargai sebuah seni, pokonya #TeamIndonesia all the way yeah!

Indonesian Fashion Show


With Dian and my fave blogger Indah Nada Puspita

Saat Dian keluar dari backstage, ia langsung diserbu dengan fans abg dan gerombolan ibu-ibu yang minta cepika-cepiki dan foto bareng. Mereka benar-benar ramai sekali, mungkin sampai enam puluh orang. Dan tidak ada satupun yang Dian abaikan permintaannya. Saya respect sama kamu Dian. Luar biasa.

***

Suatu ketika saat senggang dan belum ada pengunjung, saya duduk di sofa yang sama dengan Dian. Saya membaca majalah. Dian sibuk dengan ponselnya. Selang beberapa menit, Dian mulai membuka percakapan. Ia bercerita ada scraft yang sangat disukainya di Souq Waqif dan ingin dijadikan oleh-oleh, tetapi bagasinya untuk pulang sudah terlanjur penuh. Lantas saya menawarkan diri untuk membawa scraft-scraft itu ke Jakarta bulan Januari nanti. Dian langsung sumringah dan minta nomor whatsapp saya. Di situlah kami tukaran nomor ponsel.  

Malam itu saya bergulingan di kasur tanpa bisa tidur, dan esok paginya terbagun dengan pertanyaan, yang kemarin itu mimpi bukan ya? Saya memeriksa ponsel untuk memastikan nomor Dian tersimpan di sana, sebagai bukti bahwa saya tidak bermimpi (monmaap ye norak :p).

***

Sebagai salah satu panitia acara, saya diharuskan untuk stand by di Indonesia Pavillion dari jam dua belas siang sampai jam sebelas malam selama tujuh hari berturut-turut. Melihat Dian selama kurang lebih sebelas jam, setiap hari, selama tujuh hari, entah kenapa, membuat kekaguman saya hilang. Saya menemukan begitu banyak hal biasa dari sosok yang pernah saya anggap luar biasa.

***

Terkadang, saat mengagumi seseorang, kita cenderung merasa ia adalah orang yang sempurna tanpa cela. Benak kita dengan kreatifnya menyusun banyak persepsi (bahkan definisi) tentang sosok yang kita kagumi. Tanpa sadar, kita menabung begitu banyak ekspektasi dalam diri seseorang yang tidak kita kenal secara langsung. Tidak heran kita bisa begitu mudah kecewa ketika mendapati bahwa sosok yang kita kagumi tidak sesuai dengan gambaran ideal. Begitu juga dengan Dian. Dian hanyalah manusia biasa yang ada sisi baik dan sisi nyebelinnya. Kenapa dia nyebelin? Kirim pesan ke saya, saya akan beritahu alamat tumblr tempat saya biasa tsurhat haha.

I’ve lost the spark. Tanpa percikan, kita akan mampu melihat dengan jelas sosok yang berada di baliknya, yang selama ini tertutup oleh sinar menyilaukan. Tanpa percikan, kita lebih jernih memandang sesuatu.


Tapi Dian tetap awsome :)

Friday, November 6, 2015

Tentang (Yang Disebut) Sahabat

Saya pernah kehilangan sahabat. Hari-hari pertama kehilangan dia, saya seperti kehilangan sebagian diri saya sendiri. Saya kehilangan cara untuk tertawa terbahak-bahak dan kehilangan cara untuk menangis bahagia.

Gak ada yang lebih menyedihkan saat kamu kehilangan sahabatmu di hari pertunanganmu. Gak ada seseorang yang bisa kamu bagi kebahagiaanmu itu sedihnya pake banget lho. Waktu itu mungkin saya masih belum begitu terasa, masih ada sahabat-sahabat yang lain disisi saya. Ketidakhadirannya seorang digantikan dengan begitu banyak sahabat yang ternyata bisa hadir menemani saya. Allah baik sekali. Tapi, pada saat semuanya uda pada balik dan ninggalin saya, di situlah batin saya mengambil alih. Tetap seperti ada yang kosong. Kebahagiaan saya seperti puzzle yang tidak selesai tanpa kehadirannya.

Dua minggu berselang, sahabat saya itu memposting poto dengan seseorang di instagram. Captionnya “bersama sahabat kesayangan”. Ehm, tunggu dulu...

Gini ya, bukannya saya sok tau segala hal tentang dia, tapi hampir tujuh tahun kenal dengan sangat dekat bahkan sama keluarga dan temannya, jadi bikin saya tau sedikit banyak tentang dia. Kapan dia lagi bahagia, lagi sedih, lagi males, lagi bokek, gimana dia lagi sakit karena senggugut, gimana wajahnya saat lagi pinjem duit, gimana dia lagi tidur, apa makanan dan minuman kesukaannya, apa merk pembalut yang dia gunakan, cara dia pake jilbab, berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk mandi, dandan, shalat. Saya tau baik dan busuknya, lemah dan kuatnya. Dan seseorang yang bersamanya di poto itu? Saya nggak kenal sama sekali.

Dan “sahabat kesayangan?” Ew. Leh ketawa gak? Baru kenal berapa bulan uda nyebut sahabat. Please. Deh.

Belakangan ini, menurut saya, kata sahabat mengalami pendegradasian makna. Kenal seminggu, langsung manggil sahabat. Baru tiga kali nongkrong dan senang-senang, uda jadi kesayangan. Minimal susah-susah bareng dulu deh. Di IG banyak tuh yang bikin-bikin caption seperti with my lovely girls, with my kesayangan. Pas saya baca komennya, ada yang nanyain kenal di mana sama si itu, jawabnya kenal di party waktu poto itu diambil dan dimasukin ke IG. Ngok! -..-

Entah lah ya, sahabat saya emang sedikit. Tapi yang sedikit itu akan saya jaga sekuat-kuatnya. Daripada dipanggil beb, say, cyiiin, saya lebih terima dipanggil nyet oleh sahabat saya. Saya lebih menghargai mereka yang ngetawain saya dulu pas saya jatoh baru nolongin, daripada ngehadapin manusia-manusia fake bermulut manis. Di depan kamu mereka baik banget, di belakang eh kamu malah dinyinyirin. Jhijhique banget kan yak?

Emang sekarang kata sahabat jadi murah. Ketemuan beberapa kali, tadaaa... jadi sahabat. Tapi kalo memang sahabat beneran, diantara hal-hal yang bikin sebel, kita masih mikir banyak hal baik tentang dia dan ngerasa sayang kalo musuhan ya nggak sih?

Etapi kita gak perlu abis-abisan menahan orang yang ingin pergi kan. Buat apa? Kalo kata salah satu penulis favorit saya, jika seseorang memang ingin menetap, bahkan saat kita usir pun dia tetap akan di sana.

Hmm... Pada akhirnya, sahabat-sahabat saya memang bangsat, tapi di depan saya. Ngomongnya nyakitin, tapi di depan saya. Nyebelin emang, tapi selalu menyenangkan mengalaminya.

Thursday, October 8, 2015

Menunda Impian

Semua ini gara-gara Raline Shah.

Sebut saja begitu.

Saya baru stalking-in 1.942 fotonya dan hasrat berpertualang kembali hinggap di dalam diri saya.

Melihat foto Raline memang seperti mencari-cari kesedihan. Sudah tau akan ngiler malah saya buka juga huhu. Diperparah dengan bunda saya yang juga baru saja pulang jalan-jalan dari Amerika bagian Selatan dan memposting fotonya di Buenos Aires, Lima, Cancun, Cusco, Machu Picchu, dan beberapa daerah lain yang saya tidak hafal namanya, hiks, rasanya saya ingin ke sana juga. Masuk di dalam koper pun tak apa-apa. Aduuuh.

Tahun 2014 yang lalu saya habiskan dengan traveling. Saya suka pergi ke suatu tempat, melakukan perjalanan. Kadang-kadang saya menjumpai hal-hal yang indah di sana. Terkadang juga, saya menemukan diri saya sendiri. Jakarta, Surabaya, Lombok, Malaysia, Singapura dan terakhir Korea Selatan. Puas sekali rasanya. Di penghujung tahun tak lupa saya sampaikan harap agar tahun depan bisa traveling ke tempat-tempat yang belum pernah saya datangi.

Bulan Mei kemarin saya “pulang” ke Doha. Niat saya sih mencari kerja, mengumpulkan uang, dan, ehm, karena sudah sampai di sana, eurotrip pun akan semakin terjangkau. Membayangkannya saja saya sudah senang, hehe.

Resident visa bikin saya ketar ketir dan gemas sendiri. Pembuatannya hampir 2 bulan! Hampir 2 bulan juga paspor tidak berada ditangan saya. Padahal ayah sudah berencana untuk menghabiskan libur lebaran idul fitri di Dubai, itinerary pun sudah dibuat, namun karena keterlambatan proses resident visa tadi, jalan-jalan ke Dubai hanya tinggal kenangan.

Korban terakhir adalah jalan-jalan ke Inggris yang juga harus dibatalkan. Huhu. (Kisahnya ada di tumblr saya. Terlalu sedih kalau saya ceritakan di sini :D)

Entahlah, saya suka sekali membuat itinerary perjalanan dan terkadang saya lebih excited terhadap perencanaan itu sendiri dibandingan dengan tujuannya. Saya tahu, seberapa semangatnya saya menentukan tujuan liburan dan mempersiapkan itinerary dengan cermat, terkadang, liburan itu tidak akan terwujud. Meski saya lebih suka membungkam mulut rapat-rapat dan tidak membicarakannya. Hidup memang tidak pernah menutup peluang terhadap berbagai mujizat dan keajaiban, namun, jika menilik realitas, saya sadar, saya takkan menjejakkan kaki ke sana. Setidaknya, tidak tahun ini.

Saya memilih realistis dengan merangkul kenyataan bahwa waktunya sudah tak sempat lagi dan tabungan saya pun tidak akan cukup untuk membawa saya ke sana.

Lantas, kenapa saya repot-repot merencanakan sebuah perjalanan yang tidak akan terwujud?

Karena saya masih ingin punya mimpi. Karena impian memberi semangat pada diri yang mulai jenuh menghadapi dunia. Karena impian memberi bahan bakar untuk menyalakan api di hati. Untuk terus melangkah. Untuk terus berjalan.

Baiklah, tidak apa-apa. Bukankah memperkaya hidup itu bisa di mana saja?

Tidak apa-apa. Semuanya tergantung perspektif dan cara saya menyikapi realita, setiap hari, setiap detik.

Tidak apa-apa.

...
...

Tapi perih itu tetap ada. Aaaargggh.


Saturday, September 19, 2015

The One

Pertemanan ini dimulai tahun lalu, ketika dia menghubungi saya lewat telpon genggam. Ia menanyakan sebuah kursus yang sedang saya ikuti di Jakarta.

Saya memberikan informasi yang ia butuhkan dan dua minggu kemudian dia sudah berada di satu ruangan kursus yang sama dengan saya. Saya tersenyum dan dia membalasnya. Meski begitu, kami tak banyak bicara. Komputer dengan internet berkecepatan tinggi lebih kami sukai daripada ngobrol dengan teman disamping kiri dan kanan.

Waktu terus berlalu. Kursus berdurasi 5 bulan itu selesai. Saya kembali ke Aceh untuk magang di perusahaan oil and gas dan ia tetap di Jakarta karena sudah diterima menjadi pegawai salah satu perusahaan di sana. Semenjak berpisah, kami malah banyak bicara dan saling bercerita tentang kehidupan setelah kursus. Dia menceritakan betapa berat saat-saat awal ia menjalani hari di Jakarta, betapa sulit makanan enak ia dapati disana, betapa ia rindu pulang ke Aceh untuk sekedar menikmati sate matang dan sebuah dua buah kue nagasari.

Sejak itu kami sering berkomunikasi. Dia orang yang membuat saya tertawa dalam begitu banyak hal, mulai dari tebakan tak penting, lelucon garing, celoteh absurd, diskusi serius, sampai curhat colongan.

Ia orang yang menyenangkan. Pertemanan kami dibangun melalui hal konyol; beberapa cerita kartun masa kecil, juga game yang suka kami mainkan di play station, serta klub bola favorit kami. Saya mentertawakan dia yang menyukai klub Udinese yang kapan tahun sudah redup seiring meredupnya Serie A. Saya baru ber high five dengannya saat ia menyebut Real Madrid sebagai tim yang ia bela di La Liga.

Pertemanan kami terus terjalin. Pembahasan kami mulai memasuki ke tahap mimpi. Kami secara bergantian bertanya dan menjawab apa visi dan misi masing-masing kami, apa yang akan kami lihat dari diri kami lima tahun kedepan. Tak lupa kami rapalkan harapan-harapan yang kami punya. Melalui spontanitasnya, ia menularkan semangatnya pada saya. Melalui idealisme dan pemikiran-pemikirannya, ia menularkan passion pada saya. Melalui pilihan-pilihan yang dibuatnya, ia menularkan cara pandang baru dalam menilik hidup. Ia pernah bilang bahwa dia belajar banyak dari saya, padahal sebenarnya saya lah yang banyak belajar darinya.

Suatu hari, saat saya sedang di Jakarta untuk sebuah alasan dan kami berjanji untuk bertemu. Saya masih ingat, pertemuan singkat itu terjadi di rumah makan Lekko di Grand Indonesia. Pertemuan kembali dengannya benar-benar seperti pertemuan dengan teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak jumpa. Entah dikehidupan mana, kami seperti pernah bersua dan hati kami menyatu. Kehangatan yang nyaman ketika saya sadar bahwa saya tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa bersama dia. Saya bebas menjadi diri saya sendiri, yang masih memilih memakai celana ketimbang rok, yang masih menonton kartun masa kecil, yang mencintai Novak Djokovic hingga rela mendiskon jatah tidur untuk memilih bergadang menyaksikan pertandingannya, yang sering meluangkan waktu untuk main tenis bersama teman, yang masih bodoh dalam hal memasak, yang masih sangat reaktif untuk hal-hal tertentu. Bebas.

Saya tak pernah tahu. Saya tak pernah sadar. Dan entah sejak kapan, rasa itu tumbuh. Mungkin karena ia adalah orang yang menyenangkan, mungkin juga karena ternyata dia dan saya memiliki banyak kesamaan, mungkin juga karena caranya memperlakukan saya, atau mungkin dari kekaguman tentang sosok lelaki idaman versi saya yang mewujud pada dirinya, saya benar-benar tidak tahu. Namun cinta telah memungkinkan segalanya. Dalam pertemanan yang terus tumbuh, jarak hati itu tak lagi ada, meski kami terpisah ruang dan waktu.

Dan dia juga merasakan hal yang sama :)

***

Manusia memulai sebuah pertemuan dengan banyak kebetulan. Dengan berbagai kejadian-kejadian kecil yang mungkin tidak pernah diduga, kemudian membekas di kepala.

Saya pernah mengalaminya. Pertemuan yang tak pernah saya duga ada, tentang sebuah nama yang sering disebut dalam beberapa kesempatan, semuanya... tak saya sadari.

Enam tahun yang lalu, disebuah pernikahan, seorang teman pernah mengenalkan sepupunya kepada saya dengan berbisik sambil mengarahkan matanya ke sosok laki-laki yang sedang melewati kami yang sedang duduk di tempat hadiah. Saya hanya menjawab “O” tanpa melihatnya dengan jelas.

Tahun 2010 yang lalu, saya menghadiri sebuah pesta pernikahan kakak dari sahabat saya. Saat sedang asyik memperhatikan manusia-manusia sekitar, saya melihat lagi laki-laki yang setahun lalu pernah dibisikkan namanya oleh teman saya. Tentu dia tidak mengenal saya, seperti saya yang juga tidak mengenal dia. Tatapan saya hanyalah tatapan tiga detik yang tak berarti apa-apa.

Lima tahun kemudian, ia menjadi laki-laki yang menelpon saya dan menjadi teman kursus saya dan menjadi teman bermain saya dan menjadi teman curhat saya and the rest is... :)

Mengutip kalimat dari film Love, Rosie “sometimes you dont see that the best thing that’s ever happened to you is sitting there, right under your nose.”

***

Lantas, apakah ia “The One” yang saya cari selama ini? Saya termenung cukup lama, I’m lost for words. Namun inilah yang bisa saya katakan:

Suatu hari, kau akan bertemu seseorang yang membuatmu berkata “Ya” tanpa menimbang untung dan rugi.
Suatu hari kau akan bertemu seseorang dan seketika tahu, dialah yang selama ini kau cari. 
Suatu hari kau akan bertemu seseorang yang membuatmu lupa akan luka-lukamu. Suatu hari kau akan bertemu dengannya, dan kembali percaya.
Suatu hari kau akan bertemu seseorang yang tak sempurna dan bersedia mengabaikan segala ketaksempurnaan itu untuk bisa bersamanya.
Suatu hari, kau akan bertemu seseorang yang matanya menunjukkan kepadamu jalan pulang ke rumah.
Suatu hari kau akan bertemu seseorang, dan kau akan tahu. Tanpa meragu.



Saya dan dia menemukan jalan. Tuhan sendiri yang memberikan jalan baiknya. Alhamdulillah. 




NB: Lagu The One dari Kodaline adalah lagu favorit saya. Lagu ini selalu mengingatkan saya pada dia. Video klipnya seperti cermin dari kisah kami yang ternyata sudah pernah sedekat itu di kehidupan yang lalu. Juga tentang janji bahwa sesuatu yang sudah digariskan bersama akan tetap bersama.

Saturday, July 4, 2015

Diri

Sebagian perempuan-perempuan Indonesia sedang terjangkit “demam”. Mereka akan merasakan panas dingin selama beberapa waktu, banyak keringat dan mungkin tidak bisa tidur. Tentu yang saya sebut demam bukanlah arti demam yang sebenarnya, hehe. Ini hanya sebuah konotasi untuk mereka yang sangat mengidolakan Humood AlKhudher, penyanyi asal Kuwait yang sedang terkenal dengan lagunya “Kun Anta”.

Tidak sedikit teman-teman di Path saya yang menjadikan lagu ini sebagai “listening to” di timeline mereka, yang sesaat kemudian akan dikomen oleh teman-teman yang lain, membicarakan Humood seolah-olah ia adalah jodoh mereka. Ada juga yang mem posting foto-foto Humood yang di ambil langsung dari instagramnya, membuat caption dengan kalmat lucu seakan-akan mereka adalah istri dari sang penyanyi. Entah lah mereka menyukai musik atau wajahnya yang memang rupawan, intinya Humood AlKhudher memang tengah naik daun.

Di sini apa sudah ada yang dengar lagu “Kun Anta”? Sejujurnya saya juga sudah mendengarnya via youtube. Tidak ada video clipnya, hanya sebuah potret wajah dan lirik bahasa inggris yang membuat pendengarnya mengetahui makna yang tersirat dari lagu tersebut. Dan hanya dengan sekali dengar, saya jatuh cinta dengan lagu ini, seperti perempuan kebanyakan.

Lagu dibuka dengan lirik seperti ini...

In order to keep up with them
I imitated their looks and exterior
So I became someone else just to boast
And I thought that through that I gained a fortune

But I found that I'd lost, for these are mere appearances

No no
We don't need wealth in order to increase in beauty
Our essence is here, in our hearts it shines

No no
We will not seek to please others with that which we deem unbefitting for ourselves
That is our beauty, rising and ascending above

***

Terkadang kita begitu ingin menyingkirkan keterbatasan, mengatasi kekurangan dan kelemahan demi kelihatan sempurna dimata orang lain sehingga melupakan kedamaian di dalam hati kita sendiri. Hidup dalam pengkondisian yang diciptakan lingkungan sekitar tanpa sadar membuat kita mensejajarkan diri agar selevel dengan orang-orang yang kita sebut teman. Tanpa disadari, ternyata kita mendera diri kita sendiri.

Kita tidak bisa membahagiakan orang lain.

Mungkin itulah maksud dari lagu ini: penyadaran sederhana bahwa di tengah segala (yang kita kira) kesempurnaan, hidup ini memang tidak sempurna. Di tengah segala kelemahan dan keterbatasan diri, kita sesungguhnya memang makhluk-makhluk dengan cela. Kita dicintai sebagaimana adanya, dan tidak ada yang salah dari diri kita. Kita diterima sebagaimana adanya, dan tidak ada yang sempurna dari diri kita, namun itulah yang membuat kita “cantik”. Kecantikan yang tak terukur oleh logika. “Our essence is here, in out hearts it shines”.

Selamat menjadi diri sendiri yang apa adanya. Kun Anta, kalau kata Humood ;)

Monday, June 29, 2015

5 Hari Sebelum Tanggal 5

Entri ini saya tulis jam satu pagi, sambil mendengarkan Gravity-nya Coldplay yang sedang dalam mode on repeat sejak sejam yang lalu. Sebenarnya saya sudah berusaha tidur tetapi mata ini tidak mau terpejam. Entah kenapa, pagi ini saya merasa sunyi dan hampa. Pikiran saya pun mendadak ikut meresapi kesunyian ini.

Alangkah banyak yang ingin saya tuliskan di halaman ini. Berkali-kali saya menerima pertanyaan, “Kapan diisi lagi blog-nya?”, “Kok sekarang gak pernah posting lagi?”, dan sebagainya. Berkali-kali berbagai pemikiran singgah di otak. Berkali-kali pula saya meniatkan hati untuk menulis barang satu-dua halaman. Toh akhirnya semua niat cuma mengendap.

Juni nyaris berakhir. Bulan ketujuh akan segera saya jelang. Rasanya baru kemarin tahun 2014 berlalu. Kadang benak tergoda untuk melontarkan pertanyaan, apa saja yang sudah saya raih selama enam bulan ini? Apa saja pengalaman yang berhasil saya kumpulkan? Pembelajaran apa yang sudah saya petik? Berapa banyak teman yang saya punya? Apakah kepindahan saya ke Qatar sudah tepat?

***

Empat jam yang lalu, saya berada di ruang tunggu salah satu praktik dokter gigi di daerah Al Khor. Sembari menunggu giliran dipanggil, saya membaca sebuah majalah yang terletak di atas kursi di seberang saya. Saya langsung membuka sembarang halaman dan kata-kata pertama yang saya baca adalah “Life keeps on moving, you must change and move as life does”.

Saya membaca tulisan tersebut dua kali. Kemudian saya terdiam. Saat itu batin saya mengambil alih. Dengan ketenangan yang tak pernah saya duga ada. Dalam kesunyian yang mendamaikan. Dalam keheningan yang menyejukkan. Saya tersenyum.

***

Sudah sebulan sejak kepindahan saya, saya belum merasa settle disini. Proses mendapatkan resident visa terlalu memakan waktu. Saya pun tak bisa kemana-mana karena belum boleh mengikuti ujian mendapatkan license. Hidup saya hanya bergantung pada orang tua dan beberapa teman yang kerap datang menjemput untuk sekedar jalan-jalan. Hal ini membuat saya tidak sabar dalam proses dan sempat meragu: apakah keputusan saya pulang kesini adalah benar?

Namun tulisan random yang saya baca di ruang tunggu sebuah praktik dokter gigi tadi ternyata membuat saya berpikir ulang.

Saya sudah berkomitmen belajar untuk tidak terlalu terikat dengan satu tempat dan orang untuk kemudian akhirnya saya jadi bisa merindukan tempat dan orang tersebut, dan buat saya rindu adalah kompas petunjuk bahwa suatu hari nanti saya pasti kembali lagi untuk mengunjungi mereka. Saya diingatkan lagi ketika sibuk mengurusi pindahan, saya menyadari satu hal, semakin saya bertumbuh, semakin saya malas berpindah. Diam di zona aman itu adalah hal yang paling  menyenangkan. Semakin pula saya kurang peka dengan banyak hal karena “terbiasa”. Terbiasa itu berpeluang menumpulkan. Dan itulah alasan saya memutuskan untuk pindah.

Lagi-lagi, dengan cara yang ajaib, Sang Pencipta menunjukkan kebesaran-Nya. Memberi satu lagi peneguhan dan kekuatan untuk hati kecil yang kerap meragu ini. Menciptakan sinkronisitas untuk meyakinkan saya bahwa jalan yang sedang saya tempuh adalah jalan yang benar – setidaknya untuk saat ini. Mengalihkan fokus saya dari berbagai hal yang menyita perhatian dan terkadang begitu menjemukan, untuk sekejap menyapa dan memberitahu bahwa saya tak pernah sendirian dalam menapaki perjalanan panjang ini.

Lima hari sebelum tanggal lima... dan untuk seterusnya. Apapun yang terjadi di depan sana, apapun yang menunggu saya kelak, apapun yang akan saya alami dalam perjalanan dan evolusi kehidupan yang terus bergulir ini; sesal atau senang, gembira atau sedih, kebanggaan atau kekecewaan, hanya satu harapan saya: semoga saya bisa senantiasa mengenangnya dengan senyuman.

:-)

Saturday, June 28, 2014

Kemungkinan

Pada suatu masa, ia muncul kembali. Membawa remah-remah kenangan yang tak habis dimakan zaman. Aku menguatkan diri, meski aku sangat sadar hatiku ini tak pernah berhasil kutempa untuk menjadi tegar. Aku hanya perlu menerima, tanpa penjelasan. Seperti daun kering yang tak perlu menjelaskan bilamana ia merontok dari pucuk rantingnya ketika angin meniupnya perlahan. Atau capung yang tak perlu menjelaskan siapa ujung batang sederhana tempat hinggapnya hingga begitu menarik perhatian dibanding dunia.

Kita adalah kemungkinan-kemungkinan. Harapan yang akhir-akhir ini terapalkan sebagai sebuah kemungkinan, merupakan harta luar biasa bagi manusia. Kita hanyalah rencana-rencana. Rencana yang tak ubahnya harapan dimana bisa dipunya siapa saja asal kau berani berdiri dan bicara.

Mulut ini masih terkatup. Rapat. Ah, benar kata Sapardi Djoko Damono,

“Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni.
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.”

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More